Diolah Secara Tradisional, Begini Proses Pembuatan Kopi Muria Moelyo

BETANEWS.ID, KUDUS – Di teras sebuah rumah di RT 3 RW 3 Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terlihat perempuan renta sedang menyangrai kopi. Asap yang keluar dari proses sangrai secara tradisional itu pun serta merta membawa aroma khas harum kopi. Proses itulah yang diklaim sebagai salah satu keunggulan dari Kopi Muria Moelyo.

Pemilik Kopi Muria Moelyo, Sumarlan (52) mengatakan, mengolah kopi secara tradisional dipilih agar mampu menjaga cita rasa kopi robusta lereng Muria. Prosesnya juga lumayan lama, butuh waktu sekitar satu setengah jam. Media sangrainya juga kreweng tradisional yang terbuat dari tanah.

Proses sangrai Kopi Muria Moelyo di kediaman Sumarlan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (18/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Proses penyangraian kopi secara tradisional akan menciptakan rasa kopi yang mantab. Kalau orang Jawa bilang itu rasa kopinya thek,” ujar Sumarlan kepada Betanews.id, Sabtu (18/7/2020).

-Advertisement-

Selain itu, untuk menciptakan rasa kopi yang nendang juga harus memperhatikan proses pemilihan biji kopi. Di proses panen kopi, dia hanya memanen kopi yang merah, atau yang benar-benar masak.

Baca juga: Kopi Muria Moelyo, Nikmatnya Cita Rasa Robusta Muria Hasil Olahan Tradisional

Kemudian, lanjutnya, kopi yang dipanen itu akan direndam. Kalau ada biji kopi yang terapung akan dipisahkan dari biji kopi lainnya. Sedangkan kopi yang tidak terapung akan dijemur. Saat penjemuran, menurutnya, jangan asal dijemur di tanah beralaskan terpal. Sebaiknya penjemuran kopi itu dibuatkan rak. Agar cita rasa kopi tidak terkontaminasi sama tanah.

“Kopi itu sensitif, ya. Kalau dijemur di tanah akan berpengaruh pada aroma kopi. Aroma kopi akan bau, atau bahasa Jawanya itu apek,” kata pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Proses penjemuran, masih kata Sumarlan, membutuhkan waktu sekitar sepekan supaya kopi benar-benar kering. Biji kopi yang sudah kering kemudian masuk proses pemisahan kulit dari biji kopi. Biji kopi yang terkelupas dengan kulitnya dinamakan green bean.

“Setelah jadi green bean kemudian biji kopi dibungkus plastik rapat dan dimasukan ke dalam karung dan disimpan. Agar tercipta cita rasa kopi yang mantab, kami biasanya menyimpannya mininal enam bulan. Lebih lama lebih bagus,” ungkapnya.

Baca juga: Dari Produksi Keripik, Abdul Banting Setir Bisnis Kopi Itheng

Setelah disimpan dalam waktu yang lama, biji kopi yang masih berupa green bean itu baru bisa disangrai. Proses sangrai kopi itu pun dipilih secara tradisional, agar menjaga cita rasa kopi itu sendiri.

Dia mengatakan, dalam proses pemasaran Kopi Muria Moelyo, ia sengaja mencantumkan proses pengolahan kopi secara tradisional tersebut. Menurutnya, selama ini lumayan efektif. Bahkan dengan mencantumkan proses tersebut banyak orang yang ingin ikut memasarkan Kopi Muria Moelyo.

“Pelanggan Kopi Muria Moelyo lumayan banyak. Selain wilayah Karesidenan Pati, saya juga punya agen di Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa kota di Jawa Barat,” tutup Sumarlan.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER