BETANEWS.ID, KUDUS – Lima kecamatan di Kabupaten Kudus menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelang musim hujan yang diperkirakan mulai November 2026. Kelima wilayah tersebut adalah Jekulo, Mejobo, Undaan, Jati, dan Kaliwungu yang masuk dalam pemetaan daerah rawan banjir.
Untuk itu, BPBD Kudus mulai memperkuat kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Selain banjir, ancaman tanah longsor dan cuaca ekstrem juga menjadi perhatian dalam menghadapi peralihan musim.
Kepala BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober. Setelah itu, wilayah Kudus diperkirakan mulai memasuki musim hujan.
“Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau diperkirakan sampai akhir Oktober. Memasuki November, wilayah Kudus mulai musim penghujan,” ujarnya.
Menurutnya, pemetaan wilayah rawan menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah antisipasi. Dengan mengetahui daerah yang berpotensi terdampak, petugas diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat respons ketika terjadi bencana.
Tak hanya mengandalkan kesiapan di tingkat kabupaten, BPBD Kudus juga memperkuat peran relawan penanggulangan bencana di tingkat desa. Relawan tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi dan koordinasi ketika terjadi keadaan darurat.
Baca juga : Panas Ekstrem, Pasien RSUD Kudus Melonjak, Antrean IGD Capai 50 Orang Sehari
Kesiapan juga dilakukan melalui penyiapan personel, administrasi, serta sarana dan prasarana pendukung penanganan bencana. Langkah ini bertujuan agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
Eko mengatakan berbagai persiapan tersebut dilakukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana selama musim hujan. Meski demikian, kondisi cuaca tetap perlu dipantau karena intensitas hujan dapat berubah dan menimbulkan dampak berbeda di setiap wilayah.
BPBD berharap curah hujan selama musim penghujan berada dalam kondisi normal sehingga risiko bencana dapat ditekan. Namun, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan tetap diminta waspada, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kewaspadaan tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengantisipasi kemungkinan banjir, tanah longsor, maupun gangguan akibat cuaca ekstrem selama musim hujan berlangsung.
Editor: Kholistiono

