Panas Ekstrem, Pasien RSUD Kudus Melonjak, Antrean IGD Capai 50 Orang Sehari

BETANEWS.ID, KUDUS – Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, Jawa Tengah, mendekati 85 persen sejak pertengahan September 2026. Peningkatan tersebut terjadi di tengah bertambahnya pasien yang mengalami demam disertai gejala lain. Sementara itu, antrean di Instalasi Gawat Darurat (IGD) mencapai 35 hingga 50 pasien per hari.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Andini Aridewi, mengatakan peningkatan BOR mulai terlihat sejak pertengahan September. Menurutnya, kasus infeksi dengan gejala demam menjadi salah satu kondisi yang mengalami peningkatan, meskipun data terperinci mengenai jumlah dan persentase kasus masih perlu diperiksa kembali.

“Sebetulnya kasusnya hampir sama, cuma yang agak meningkat itu kasus-kasus infeksi, panas atau demam, disertai gejala yang lain,” kata Andini melalui sambungan telepon, Kamis (15/10/2026).

-Advertisement-

Dia menjelaskan, infeksi yang ditemukan pada pasien memiliki beragam penyebab dan jenis. Di antaranya infeksi saluran pernapasan serta infeksi saluran pencernaan. Sebagian infeksi tersebut dapat menular sehingga memerlukan upaya pencegahan.

Andini mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan pola hidup bersih dan sehat, terutama ketika cuaca panas disertai banyak debu. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menggunakan masker saat berada di lingkungan berdebu.

“Kalau cuaca panas, banyak debu, yang jelas kita juga harus banyak minum, istirahat cukup, kemudian mengatur asupan gizi dengan makanan yang bergizi. Kalau banyak debu juga harus menghindarinya dengan pemakaian masker,” ujarnya.

Di sisi lain, tingginya keterisian tempat tidur membuat rumah sakit harus mengoptimalkan kapasitas ruang rawat inap yang tersedia. Andini menyebut RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus memiliki total 398 tempat tidur, dengan tingkat keterisian saat ini mendekati 85 persen.

Meski demikian, tidak semua tempat tidur yang masih kosong dapat langsung digunakan untuk menampung pasien umum. Sebab, sebagian berada di ruangan khusus, seperti ruang bersalin, intensive care unit (ICU), dan high care unit (HCU), yang penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan masing-masing.

“Kami mengoptimalkan semua ruangan yang ada. Hanya saja, ruangan-ruangan khusus seperti bersalin, ICU, dan HCU memang tidak bisa digunakan di luar fungsi yang seharusnya,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi penumpukan pasien, rumah sakit juga berupaya mempercepat evaluasi kondisi pasien yang menjalani rawat inap. Pasien yang sudah memenuhi syarat untuk pulang akan segera diproses agar tempat tidurnya dapat kembali digunakan oleh pasien lain yang membutuhkan perawatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran alur pelayanan, termasuk mengurangi penumpukan pasien di IGD. Andini menyebut jumlah antrean pasien di unit tersebut berkisar 35 hingga 50 orang setiap hari.

“Setiap hari kami harus mempercepat dan mengoptimalkan proses evaluasi, mana pasien yang sudah bisa pulang, kemudian segera mengatur agar tidak terjadi penumpukan di IGD. Pasien terus mengalir setiap saat,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER