BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengirim 80 siswa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 14 Jepara ke Kantor Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang.
Pelepasan 80 siswa tersebut digelar di Pendopo Kartini Jepara pada Selasa (11/8/2026). Mereka dikirim ke Semarang untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT yang digelar selama lima hari, yakni pada 12-15 dan 17 Agustus 2026.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan MPLS tersebut diselenggarakan di Semarang karena bangunan SNT di Jepara belum dibangun. Sebagai langkah awal, para siswa akan memanfaatkan fasilitas milik BBPMP Jawa Tengah sebelum nantinya kembali ke Jepara untuk belajar di sekolah transit.
“Hari ini kita berangkatkan 80 siswa (SNT) ke BBPMP Jawa Tengah untuk dilakukan MPLS di sana. Karena fasilitas di sini belum terbangun, dibawa ke sana untuk dilakukan sementara di Semarang. Kemudian setelah itu akan balik lagi ke Jepara,” ujar Wiwit saat ditemui seusai melepas para siswa di Pendopo Jepara.
Sekolah transit yang disiapkan bagi 80 siswa SNT 14 Jepara nantinya berada di Balai Latihan Kerja (BLK) Kecamatan Pecangaan yang sebelumnya menjadi lokasi sementara Sekolah Rakyat Dasar (SRD) Rintisan Jepara.
Wiwit menyebutkan, 80 siswa tersebut terdiri atas 40 siswa SMP kelas VII dan 40 siswa SMA kelas X. Untuk siswa SMP, seluruhnya berasal dari Jepara, sedangkan untuk siswa SMA, satu siswa berasal dari Kabupaten Kudus.
“Ini adalah kesempatan besar bagi anak-anak di Kabupaten Jepara. Tidak hanya SNT, Jepara juga ada SR. Kalau SNT diperuntukkan bagi anak-anak berprestasi lintas desil (desil 1 sampai 10), sedangkan Sekolah Rakyat (SR) lebih terbatas untuk desil 1 dan 2. Perpaduan ini sangat luar biasa untuk kemajuan pendidikan di Jepara,” ujar Wiwit.
Sementara itu, Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, menjelaskan bahwa selama lima hari di Semarang, para siswa akan mendapatkan materi penguatan karakter melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, belajar, makan bergizi, bermasyarakat, hingga tidur lebih cepat.
“Materi MPLS nanti yang akan diberikan lebih kepada penguatan karakter. Ini lebih mudah jika dilakukan dengan cara menginap. BBPMP Jawa Tengah memfasilitasi untuk anak-anak membangun karakter lewat tujuh kebiasaan tersebut,” kata Nugraheni.
Selain pembentukan karakter, para siswa juga akan dikenalkan dengan kurikulum yang akan diterapkan di SNT 14 Jepara. Kurikulum tersebut merupakan integrasi dari tiga unsur utama, yakni kurikulum nasional, kurikulum STEMS (Science, Technology, Engineering, Mathematic, Art, and Sport), serta kurikulum berbasis kearifan lokal.
“Tujuannya agar anak-anak kita dekat dengan lingkungannya dan menjadi problem solver bagi masalah yang ada di sekitar mereka,” tambahnya.
Nugraheni mengungkapkan, Jepara terpilih menjadi lokasi SNT bersama Kabupaten Banyumas karena komitmen pemerintah daerah yang sangat kuat. Bupati Jepara, menurutnya, telah menyiapkan lahan seluas 10 hingga 20 hektare untuk pembangunan fisik sekolah serta menyediakan gedung sekolah transit agar kegiatan belajar mengajar bisa langsung dimulai tahun ini.
Untuk mendukung proses pembelajaran berstandar internasional, SNT 14 Jepara akan menerapkan sistem bilingual atau dua bahasa. Sebanyak 12 guru mata pelajaran dan satu kepala sekolah yang telah ditunjuk akan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bergantian dalam kegiatan belajar mengajar.
“Karena sekolahnya terintegrasi dari jenjang SMP hingga SMA, maka mata pelajarannya akan dibuat berkesinambungan tanpa ada materi yang tumpang tindih antarkelas,” pungkas Nugraheni.
Editor: Kholistiono

