Dukung Ketahanan Pangan, 94 Proyek Irigasi Mulai Mengalir ke Sawah Petani di Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebagai upaya untuk mendukung terealisasinya program ketahanan pangan, sejumlah paket pengerjaan irigasi ke sawah pertanian di Kabupaten Jepara terus dikebut.

Pada 2026, total terdapat 131 titik perbaikan irigasi yang akan dikerjakan pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 94 titik saat ini sudah berjalan, sedangkan 39 titik lainnya masih dalam proses.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengatakan pengerjaan perbaikan irigasi tersebut termasuk salah satu upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara merealisasikan Program Irigasi Lancar yang bertujuan menyediakan sarana dan prasarana irigasi demi menjamin kecukupan air bagi petani.

-Advertisement-

Dalam pelaksanaannya, Mudhofir mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah pusat melalui BBWS maupun Dinas PU Pengairan.

“Intinya ada unsur pusat, daerah, dan dinas terkait. Semuanya nanti muaranya adalah menyediakan air untuk ketahanan pangan. Harapannya, air terpenuhi sehingga mendukung ketahanan pangan,” ujar Mudhofir saat dihubungi Betanews.id, Senin (10/8/2026).

Mudhofir menyebutkan, 94 titik yang sudah mulai berjalan terdiri atas 15 titik pembangunan embung, 30 titik pembangunan irigasi perpompaan sumur dalam, lima titik irigasi perpompaan menggunakan diesel, empat titik irigasi perpipaan, tujuh titik Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier, serta 33 titik optimasi lahan (Oplah). Pembangunan tersebut disalurkan melalui kelompok tani.

Total seluruh anggaran dari proyek tersebut yaitu Rp11,123 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Salah satu proyek perbaikan irigasi yaitu pembangunan talud di Dukuh Selomenur RT 2 RW 3, Desa Welahan, Kecamatan Welahan, yang diberikan kepada Kelompok Tani Puji Lestari 2. Di lokasi tersebut, panjang talud yang dibangun yaitu 165 meter dengan lebar dan tinggi masing-masing 60 sentimeter.

Ketua Kelompok Tani Puji Lestari 2, Asrofi (54), mengatakan pembangunan talud permanen ini sangat membantu dalam efisiensi penggunaan air. Sebelum adanya talud, aliran air sering meluber, meresap ke lahan yang tidak digunakan untuk pertanian, dan terhambat oleh tanaman liar.

“Kalau tidak ada taludnya, airnya terlalu boros dan meresap ke mana-mana. Terus dulu kan banyak suket (rumput) yang menghambat. Sekarang dengan adanya ini, aliran air langsung masuk ke lokasi sawah dengan cepat,” kata Asrofi.

Selain efisiensi air, pembangunan talud juga berdampak signifikan pada penurunan biaya produksi. Sebelumnya, ia bersama 45 anggota kelompok tani lainnya harus mengeluarkan biaya besar ketika membeli solar sebagai bahan bakar diesel untuk memompa air dari sungai.

“Dulu kebutuhan solar kisarannya 60 liter per hari. Dengan adanya talud, mungkin bisa menghemat solar sampai separuhnya atau sisa 3/4 saja, jadi sangat membantu menekan modal tanam,” ujar Asrofi.

Adapun 39 titik yang saat ini masih dalam proses yaitu Rehabilitasi Jaringan Irigasi sebanyak 18 titik bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta satu titik pembangunan embung, lima titik Irigasi Perpompaan Sumur Dalam, enam titik Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier, dan sembilan titik Jalan Usaha Tani yang merupakan bantuan aspirasi dari DPR RI.

Pemkab Jepara menargetkan dalam lima tahun ke depan, kondisi jaringan irigasi yang baik dapat meningkat hingga 28 persen sebagai fondasi utama menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER