BETANEWS.ID, SEMARANG – Bagi Alde Jovanta (28), pulang ke desa setelah bertahun-tahun merantau ternyata bukan perkara mudah. Setibanya di kampung halaman, ia kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai.
Alde kembali ke Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, pada 2023 karena keadaan yang memaksanya pulang. Ia sempat beberapa kali melamar pekerjaan, tetapi belum ada yang sesuai. Sementara itu, istrinya membuka warung dan Alde membantu berjualan sambil menunggu kesempatan kerja. Namun, tabungan yang dibawanya dari masa merantau perlahan menipis.
Harapan itu muncul ketika ia tidak sengaja menemukan lowongan sebagai driver Onno di Desa Sumowono.
“Awalnya nyoba iseng daftar, akhirnya keterima,” kata Alde saat ditemui di Kantor BUMDes Aji Bodronoyo beberapa waktu lalu.
Pekerjaan itu dipilih karena ia tidak perlu pergi jauh meninggalkan desa. Baginya, bekerja di tempat yang masih dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor lebih menguntungkan dibanding harus menghabiskan biaya transportasi ke luar daerah.
Onno merupakan unit usaha layanan ojek daring milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aji Bodronoyo. Unit usaha ini menjadi salah satu penopang ekonomi Desa Sumowono sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.
Prinsip tersebut bukan sekadar slogan. Direktur BUMDes Aji Bodronoyo, Bambang Wahyu Nugroho, meyakini bahwa BUMDes harus dijalankan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bukan semata-mata mengejar keuntungan. Salah satu wujudnya adalah mengutamakan warga lokal dalam proses rekrutmen pengemudi.
Bambang merancang Onno lebih dari sekadar layanan ojek daring. Setiap pengemudi juga berfungsi sebagai agen setor dan tarik tunai karena unit usaha tersebut telah terintegrasi dengan Agen BRILink milik BUMDes.
“BUMDes ini punya unit usaha Agen BRILink, ada dua. Satu dikelola LKD (Lembaga Keuangan Desa), satunya di Onno. Jadi warga bisa setor-tarik tunai tanpa perlu ke bank atau ATM,” jelas Bambang.
Artinya, ketika warga memesan layanan Onno untuk antar-jemput maupun pengiriman barang, mereka juga dapat memanfaatkan layanan perbankan dasar. Pengemudi yang datang ke rumah dapat membawa uang tunai untuk penarikan maupun menerima setoran tunai dari pelanggan tanpa warga harus meninggalkan desa.
Integrasi layanan tersebut hanya dapat berjalan dengan baik jika dikelola secara serius. Annisa Aina menjadi salah satu sosok yang berperan di balik pengelolaan Onno.
Setelah lulus dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada 2023, Annisa sempat bekerja di luar kota sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman. Ia kemudian mencoba bekerja secara lepas, tetapi jam kerjanya tidak menentu.

“Eh, pas ternyata Onno lagi buka lowongan, ikut daftar, dan lolos,” ujar Annisa.
Perempuan berusia 26 tahun yang bergabung dengan Onno pada Maret 2024 itu awalnya bertugas sebagai admin. Kini, ia dipercaya menjadi Manajer Onno.
Di bawah pengelolaannya, Onno yang saat pertama kali diluncurkan hanya memiliki dua pengemudi kini telah berkembang menjadi 20 pengemudi, termasuk dua perempuan. Usia mereka berkisar antara 20 hingga 40 tahun.
“Syaratnya (untuk bergabung) ngga rumit, yang penting kendaraan sesuai standar, punya SIM, bisa baca maps, dan paham wilayah Sumowono. Apalagi Sumowono daerah pegunungan, kadang titik mapsnya kan nggak pas,” jelas Annisa.
Skema bagi hasil dirancang agar menguntungkan mitra, yakni 80 persen untuk pengemudi dan 20 persen untuk kantor. Dalam sehari, jumlah pesanan dapat mencapai sekitar 100 perjalanan, meningkat jauh dibanding saat awal beroperasi yang hanya berkisar 10 hingga 15 perjalanan dengan dua pengemudi. Rata-rata pengemudi memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Karena pembayaran dilakukan langsung kepada pengemudi, setiap hari mereka melaporkan jumlah perjalanan dan pendapatan melalui grup komunikasi. Adapun setoran bagi hasil kepada kantor dilakukan setiap satu minggu sekali.
Kepala Desa Sumowono, Budiono, mengatakan pembukaan lapangan pekerjaan bagi warga lokal memang menjadi salah satu tujuan utama ketika mendirikan BUMDes setelah kembali dipercaya memimpin desa pada 2019.
Budiono bukan sosok baru bagi masyarakat Sumowono. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai kepala desa selama dua periode, yakni pada 1989 hingga 2006. Pengalaman tersebut membuatnya memahami kondisi masyarakat dengan baik.
Desa Sumowono dikenal sebagai wilayah agraris dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Namun, menurut Budiono, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian terus menurun.
Di sisi lain, jumlah generasi muda, termasuk lulusan perguruan tinggi, terus bertambah. Mereka membutuhkan pilihan pekerjaan di luar sektor pertanian, sementara lapangan kerja di desa masih sangat terbatas.
Kondisi itulah yang mendorong Budiono menjadikan pendirian BUMDes sebagai salah satu program prioritas saat kembali menjabat kepala desa. Tujuannya agar desa mampu menciptakan lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda.
Upaya tersebut kini mulai membuahkan hasil. Selain Onno yang bermitra dengan 20 pengemudi, BUMDes Aji Bodronoyo saat ini mempekerjakan 55 karyawan yang mayoritas merupakan warga lokal.
“Dengan adanya BUMDes, paling tidak minimal itu bisa menyerap tenaga kerja. Itu terbukti, sampai saat ini kan hampir 50 lebih terekrut (di BUMDes), walaupun insentifnya masih terbatas, tapi paling tidak desa sudah memberikan lapangan pekerjaan,” kata Budiono.
Lebih dari itu, BUMDes Aji Bodronoyo yang kini masuk dalam 15 besar Desa BRILiaN tingkat nasional, program inkubasi pemberdayaan desa yang diselenggarakan Bank BRI, juga berhasil mengubah ekosistem ekonomi masyarakat.
Banyak pedagang yang sebelumnya hanya mengandalkan transaksi tunai kini semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital. Akses layanan keuangan pun semakin mudah melalui para pengemudi Onno.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nugroho, menilai model penciptaan lapangan kerja seperti yang dilakukan Desa Sumowono masih tergolong langka.
“Masih cukup langka, karena selama ini kebanyakan masyarakat dan aparat desa sudah punya mindset menggantungkan diri pada pemerintah daerah dan pusat,” katanya melalui pesan tertulis.
Menurut Nugroho, model tersebut juga efektif menekan laju urbanisasi generasi muda. Ketika desa mampu menyediakan lapangan kerja, anak-anak muda tidak perlu lagi meninggalkan kampung halaman dan justru dapat berkontribusi membangun desanya.
Alde menjadi salah satu bukti nyata. Kini, setiap pagi ia menyalakan motornya bukan untuk kembali merantau, melainkan melayani warga desanya sendiri, mengantar penumpang, mengirim barang, memberikan layanan setor dan tarik tunai, sekaligus membuktikan bahwa desa pun mampu menjadi tempat untuk hidup dan berkembang.
Editor: Kholistiono

