BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejak resmi dibangun pada 2014, hiruk-pikuk Pasar Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, tidak hanya diwarnai oleh transaksi jual beli komoditas pertanian, tetapi juga oleh bayang-bayang dua persoalan utama, yakni sistem retribusi manual yang tidak transparan dan rentenir yang menjerat pedagang.
Namun, di tangan pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Aji Bodronoyo, keresahan tersebut tidak dibiarkan menjadi keluhan. Persoalan itu justru disulap menjadi sebuah inovasi digital yang kini dirasakan manfaatnya oleh para pedagang.
Inovasi tersebut digagas oleh Direktur BUMDes Aji Bodronoyo, Bambang Wahyu Nugroho. Ditemui di kantor BUMDes, Bambang bercerita bahwa BUMDes di desanya baru didirikan pada Desember 2021.
Pembentukan BUMDes merupakan salah satu program prioritas Kepala Desa Sumowono, Budiono, yang dilantik pada 2019. Bambang pun menjadi direktur pertama BUMDes dan resmi mengemban amanah sejak 2 Januari 2022 hingga akhir 2026.
Sebelum menjadi BUMDes, Desa Sumowono telah memiliki dua unit usaha, yakni pengelolaan Pasar Desa dan Lembaga Keuangan Desa (LKD), yang dikelola secara mandiri dan terpisah.
Pasar dipimpin oleh seorang lurah pasar, sedangkan LKD dipimpin oleh ketua LKD. Keduanya bertanggung jawab langsung kepada kepala desa.
“Pada saat sudah menjabat, saya baru tahu bahwa direktur BUMDes harus mengelola unit usaha desa yang sudah ada, salah satunya pasar. Nah, itu sifatnya mandatori,” ujar Bambang menceritakan awal perjuangannya merintis BUMDes.
Kejutan itulah yang membuat Bambang langsung menghadapi tantangan di awal masa jabatannya. Sebab, ia sama sekali belum memiliki pengalaman maupun gambaran dalam mengelola pasar.
Saat mendaftar sebagai Direktur BUMDes, visi dan misinya adalah menciptakan ekosistem marketplace bagi UMKM di desanya.
Untuk pengelolaan LKD, Bambang telah memiliki konsep, yakni membentuk semacam bank desa untuk membantu masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang dan petani.
Karena kedua unit usaha tersebut bersifat mandatori, pada awal menjabat Bambang meminta waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk mempelajari ekosistem Pasar Desa.
“Saat itu keresahan saya, yang pertama bank plecit (rentenir) dan kedua masalah karcis yang masih manual. Bagi petugas mudah, tapi bagi kantor ngeceknya agak sulit,” ungkap Bambang.

Dari keresahan tersebut, lahirlah aplikasi DIGIT (Digital Terintegrasi), sebuah aplikasi yang mengintegrasikan pembayaran retribusi dengan sistem tabungan harian sehingga membantu pedagang terhindar dari jeratan rentenir.
Proses pembentukan aplikasi itu tidak mudah. Perumusan konsep hingga pembuatan sistem berlangsung sekitar satu tahun, dimulai pada Agustus 2022 hingga resmi diluncurkan pada 1 Juli 2023.
Pada awal perumusan ide, Bambang sempat berdiskusi dengan BRI Regional Office Semarang. Namun, konsep yang dimilikinya saat itu belum dapat dikerjasamakan dengan pihak BRI.
Bambang kemudian menggandeng Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga untuk mengembangkan aplikasi DIGIT. Sementara itu, penyimpanan dana tetap menggunakan rekening Bank BRI.
Sistem pembayaran retribusi pasar memang belum sepenuhnya digital. Pedagang masih membayar secara tunai dan tetap menerima karcis. Namun, uang retribusi yang dibayarkan langsung diinput oleh petugas ke dalam sistem aplikasi.
“Karena kita menyadari mayoritas pedagang berusia lanjut. Kalau kita paksakan semua digital, pakai rekening atau QRIS, nanti enggak jalan,” kata Bambang.
Satu tahun setelah aplikasi DIGIT berjalan, pada 2024 pihak BRI datang menawarkan kepada Bambang untuk mengikuti Program Desa BRILian, sebuah program inkubasi dan pemberdayaan desa yang diselenggarakan BRI.
Setelah berdiskusi dengan kepala desa, Bambang memutuskan mendaftar. Proses seleksi dan pembinaan dimulai pada Oktober 2024.
Selama kurang lebih satu bulan, peserta mengikuti berbagai materi secara daring. Setelah lolos 40 besar dan memperoleh penghargaan senilai Rp10 juta, BRI menggandeng Universitas Negeri Semarang (UNNES) untuk memberikan pembekalan secara langsung selama satu minggu di kantor BUMDes.
“Materinya banyak, cukup bagus. Pertama tentu ada manajerial bisnis secara umum, kemudian penataan karyawan. Kita juga belajar terkait laporan keuangan BUMDes, cara manajemennya agar tidak serba manual, tetapi digital,” kata Bambang.
Setelah mengikuti berbagai pembinaan dan menyelesaikan seluruh tugas, Desa Sumowono berhasil masuk 15 besar Desa BRILian terbaik tingkat nasional pada 2025. Desa tersebut juga memperoleh bantuan CSR senilai Rp300 juta untuk membangun pujasera di kawasan Alun-Alun Sumowono.
Sejak menjadi desa binaan BRI melalui Program Desa BRILian, unit usaha BUMDes Sumowono juga bertambah. LKD yang semula hanya melayani simpan pinjam kini juga membuka layanan Agen BRILink.
Agen BRILink tersebut kemudian diintegrasikan dengan ONNO, layanan antar-jemput yang diresmikan pada 30 Juni 2024, dan kini juga melayani tarik serta setor tunai.
Meski programnya berjalan sukses dan berhasil meraih penghargaan, Bambang mengakui perjalanan membangun unit usaha BUMDes tidaklah mudah, terutama dalam mewujudkan digitalisasi pengelolaan pasar.
Tantangan datang tidak hanya dari pedagang maupun internal BUMDes yang sempat meragukan idenya. Menurut Bambang, penerapan digitalisasi di tengah kondisi pasar yang masih dikuasai rentenir menjadi dinamika tersendiri.
“Tapi alhamdulillah saya dikasih tim yang cukup oke. Dari segi umur enggak beda jauh, pola pikir alhamdulillah kita sarjana semua. Sehingga menyatukan cara pandang dan visi jauh lebih mudah,” ucap Bambang.
Meski demikian, hingga kini masih ada dua unit usaha lain yang menurut Bambang menjadi pekerjaan rumah, yakni pengelolaan sampah dan penataan alun-alun desa.
Terpisah, Kepala Desa Sumowono, Budiono, mengatakan gagasan mendirikan BUMDes Aji Bodronoyo memang berawal dari visi dan misinya saat mencalonkan diri sebagai kepala desa pada 2019.
Budiono melihat desanya memiliki potensi ekonomi lokal yang besar. Karena itu, ia berharap BUMDes dapat mengelolanya secara lebih baik, maksimal, dan transparan.
Salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan Pasar Desa yang sebelumnya memiliki celah penyelewengan akibat sistem penarikan retribusi yang masih serba manual.
“Kalau dulu itu namanya pasar tradisional, menarik retribusi masih pakai karcis. Itu kan banyak kerawanan. Kalau karcis, mungkin ada yang mengambil uangnya, tetapi karcisnya tidak diberikan,” ungkap Budiono saat ditemui di kediamannya.
Melalui BUMDes, ia ingin pasar dikelola layaknya sebuah usaha profesional agar pertanggungjawabannya lebih transparan dan keuntungannya dapat dirasakan lebih maksimal oleh masyarakat.
Transformasi tata kelola pasar tersebut semakin nyata setelah BUMDes Sumowono memperoleh pendampingan sebagai desa binaan BRI.
Budiono mengaku merasakan perubahan besar, terutama dalam hal adaptasi teknologi di kalangan pedagang pasar.
“Paling tidak atas binaan BRI muncul digitalisasi, muncul transaksi yang notabene non-tunai. Yang dulunya pedagang-pedagang masih tradisional dan tunai, sekarang sudah sedikit banyak memahami pembayaran digital lewat BRILink,” ujar Budiono.
Manajer Ultra Mikro BRI Regional Office Semarang, Eka Agus Purnama, menjelaskan bahwa rencana kerja sama pengembangan sistem pembayaran retribusi pasar secara digital antara BRI dan BUMDes Aji Bodronoyo saat itu belum dapat diwujudkan karena terbentur regulasi.
Menurut Eka, perbankan tidak diperbolehkan mengembangkan sistem atau menjual produk di luar produk inti perbankan.
“Ada ketentuan regulasi dari BI dan OJK. Sekarang ini ada ketentuan bahwa perbankan dilarang melakukan pengembangan atau menjual produk selain produk perbankan,” ungkap Eka melalui sambungan telepon.
Ketentuan tersebut pula yang membuat rencana integrasi antara New Pasar.id, platform digital milik BRI untuk membantu pedagang pasar tradisional berjualan secara daring, dengan layanan ONNO akhirnya tidak terlaksana.
Eka menambahkan, salah satu faktor utama yang membuat Desa Sumowono lolos 15 besar Desa BRILian tingkat nasional adalah kedisiplinan pengurus BUMDes selama mengikuti pelatihan dan pembinaan.
“Karena dalam penilaian, disiplin ini nilainya sudah 25 persen sendiri,” kata Eka.
Ke depan, Eka berharap BUMDes Aji Bodronoyo dapat berkembang menjadi BUMDes digital yang memiliki sistem pencatatan dan laporan keuangan berbasis digital sehingga lebih transparan.
Inovasi yang dilakukan Bambang kini mulai dirasakan manfaatnya oleh para pedagang. Juri (60), seorang petani sekaligus pedagang di Pasar Desa Sumowono, mengaku kini tidak lagi waswas didatangi rentenir setiap hari.
Ia juga dapat menabung dengan mudah tanpa harus datang ke bank atau agen, cukup melalui petugas yang menarik retribusi pasar.
“Bank plecit itu repot, nagihnya harian. Hampir semua pedagang di sini ditagih setiap hari. Sekarang alhamdulillah sudah enggak,” ujar Juri.
Editor: Kholistiono

