Jadi Andalan Warga Desa, Agen Mini Bank di Jepara Ini Punya Siasat Unik Jaga Kebutuhan Tunai

BETANEWS.ID, JEPARA – Menjadi perpanjangan tangan perbankan yang setiap hari diandalkan warga, agen mini bank di Kabupaten Jepara memiliki cara unik untuk menjaga ketersediaan uang tunai, yaitu dengan sistem barter.

Salah satunya dilakukan oleh Sri Rahayu (46), atau akrab disapa Yayuk, satu-satunya Agen BRILink di Desa Tempur, Kecamatan Keling, yang masih aktif beroperasi.

Untuk menjaga ketersediaan uang tunai, Yayuk tidak bekerja sendiri. Ia dibantu suaminya, Budi Riyanto (46), yang hampir setiap pagi, saat kabut masih menyelimuti Desa Tempur, sudah memulai rutinitas kecil yang cukup krusial.

-Advertisement-

Dengan mengendarai sepeda motor dan melewati jalanan berkelok selama lebih dari setengah jam, Budi menuju pusat Kecamatan Keling.

Tujuannya ada dua, yakni mengantar anaknya ke sekolah dan menarik uang tunai untuk menjaga ketersediaan dana di warung Agen BRILink milik mereka.

Di kawasan terpencil seperti Desa Tempur yang berjarak sekitar 15 kilometer dari kantor unit perbankan, kehadiran Agen BRILink menjadi andalan warga saat membutuhkan layanan tarik tunai.

Karena menjadi andalan warga, menjaga ketersediaan uang tunai menjadi hal wajib bagi Yayuk agar dapat melayani tingginya kebutuhan transaksi.

Perputaran uang di Agen BRILink miliknya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Biasanya momen itu terjadi ketika warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani kopi memasuki masa panen raya. Banyak pengepul kopi yang mengandalkan warungnya untuk menarik uang tunai.

Selain itu, transaksi dalam jumlah besar biasanya terjadi saat Idulfitri, libur panjang, atau ketika bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) mulai cair. Pada momen tersebut, antrean tarik tunai di warungnya cukup ramai.

“Untuk jaga-jaga, setiap hari selalu menyediakan uang tunai rata-rata Rp100 juta per hari,” sebut Yayuk saat ditemui di Warung Agen BRILink miliknya di Dukuh Pekuso RT 1 RW 3, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.

Saat ini jumlah transaksi di warungnya juga meningkat. Dari yang awalnya hanya 10 hingga 15 transaksi per hari, kini menjadi 30 hingga 50 transaksi per hari. Warungnya juga menjadi andalan tidak hanya bagi warga Desa Tempur, tetapi juga para kurir yang melakukan setor tunai dari transaksi COD paket.

Dulu, untuk menjaga ketersediaan uang tunai, Yayuk biasanya cukup menghubungi pihak BRI Unit Kelet. Pihak bank akan mengantarkan uang tunai sesuai permintaan. Namun, layanan tersebut kini sudah tidak dapat diakses lagi.

Akibatnya, setiap pagi suaminya harus turun ke pusat kecamatan untuk menarik uang tunai.

Kendala biasanya terjadi saat masa libur panjang atau Idulfitri, ketika kantor perbankan tutup, sementara masyarakat sedang membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar.

Untuk menyiasati hal itu, Yayuk memanfaatkan relasinya dengan toko sembako besar di daerah Bangsri, Kabupaten Jepara, maupun Tayu, Kabupaten Pati, melalui sistem barter uang fisik saat berbelanja stok barang untuk dijual kembali di warungnya.

Menurut Yayuk, toko grosir besar biasanya memiliki persediaan uang tunai yang cukup banyak sehingga mereka tidak perlu datang ke bank atau ATM untuk menyetor uang.

“Saya kalau belanja stok warung kan nggak pernah ambil di sales, kulakan langsung. Kadang ambil di Bangsri, kadang di Tayu. Mereka kan toko-toko besar kebanyakan tunai. Daripada setor, jadi barter, saya dikasih cash, mereka saya transfer,” beber Yayuk.

Kisah berbeda dalam menjaga stok uang tunai juga dialami Ulul Misbah (50), pemilik Warung Agen BRILink di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan.

Meskipun lokasi Bandungrejo dekat dengan kantor unit bank maupun layanan ATM, Agen BRILink milik Ulul tetap menjadi andalan warga saat membutuhkan uang tunai, termasuk para pengusaha konveksi maupun pengepul mangga.

Sekali melakukan transaksi, pengusaha konveksi biasanya menarik uang tunai sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta. Sementara pengepul mangga bisa menarik dana antara Rp50 juta hingga Rp80 juta.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, Ulul mendisiplinkan diri dengan menetapkan target stok uang tunai harian. Jika jumlahnya kurang dari target, ia akan datang ke kantor unit bank untuk menarik uang tunai.

“Kalau stok sudah tipis, di bawah Rp50 juta, saya biasanya pesan pagi-pagi sekali sekitar jam 06.00. Saya japri SPV-nya,” kata Ulul saat ditemui di kediamannya di Desa Bandungrejo beberapa waktu lalu.

Status sebagai nasabah prioritas memberinya keuntungan berupa layanan tanpa antre saat tiba di kantor unit. Namun, demi memenuhi kebutuhan pelanggan, ketika stok uang tunai di kantor unit terdekat habis, ia terkadang harus mencari hingga ke luar wilayah Kalinyamatan.

“Kadang di Kalinyamatan nggak ada, sampai Pecangaan, kadang sampai ke Jepara juga kita lihat stoknya, karena demi untuk melayani pelanggan,” tegasnya.

Terpisah, Agus Winarso, Manajer Mikro BRI Cabang Jepara, mengatakan bahwa sebagai upaya menjaga ketersediaan uang tunai bagi para Agen BRILink, setiap kantor unit biasanya sudah memiliki catatan kebutuhan stok uang tunai untuk para agen di wilayahnya.

Agen BRILink juga diberikan status sebagai nasabah prioritas sehingga mempercepat proses saat membutuhkan tambahan uang tunai.

Selain itu, untuk memudahkan para Agen BRILink, BRI juga membentuk komunitas agen dalam grup WhatsApp. Grup tersebut selain berfungsi sebagai sarana koordinasi terkait kendala yang dialami agen, juga menjadi wadah untuk saling bertukar informasi mengenai ketersediaan uang tunai.

“Jadi mereka yang kelebihan cash akan nge-share di grup itu, dicarikan yang sedang kekurangan. Mereka saling info agar stoknya tidak tersendat,” kata Agus saat ditemui di Kantor BRI Cabang Jepara.

Terkait layanan antar-jemput uang tunai, Agus mengatakan BRI memang pernah memiliki layanan tersebut yang bernama Teras Keliling. Namun, karena kebijakan dari pusat, layanan itu sudah tidak lagi beroperasi. Terakhir berjalan sekitar tahun 2020.

Meski demikian, Agus memastikan para agen di daerah terpencil tetap dapat memperoleh bantuan apabila memang dibutuhkan.

“Meskipun sudah tidak ada, sebetulnya kondisional. Dalam artian, ketika daerah tersebut memang membutuhkan dan aksesnya memang susah, kita bisa secara aksidental mengirim ke sana,” pungkas Agus.

Dari kisah Yayuk dan Ulul terlihat bahwa meskipun likuiditas masih menjadi tantangan, di tangan agen seperti mereka, kehadiran BRILink benar-benar hidup dan bekerja. Menjadi jembatan nyata antara bank dan denyut ekonomi warga yang tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mengakses layanan keuangan.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER