BETANEWS.ID, JEPARA – Tradisi Perang Obor yang menjadi puncak kegiatan sedekah bumi di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, kembali digelar pada Senin (25/5/2026) malam.
Setiap tahun, gelaran tradisi itu selalu sukses menyedot ribuan pengunjung yang memadati area jalan desa. Tak hanya masyarakat sekitar maupun pengunjung lokal, beberapa turis asing juga tampak hadir menyaksikan kemeriahan Perang Obor.
Pelaksanaan tahun ini terasa berbeda. Hujan deras yang mengguyur di tengah acara tidak membuat bara api dari ratusan obor yang dimainkan menjadi padam. Suasana justru terasa lebih meriah dan berlangsung hangat.
Guyuran hujan juga tidak membuat masyarakat yang sudah memadati area Perempatan Desa Tegalsambi meninggalkan acara. Sorak penonton menjadi pengiring alami saat dua obor bertemu dan saling menyerang hingga memunculkan percikan bunga api.
Total terdapat sekitar 400 obor dari blarak (daun kelapa kering) dan klaras (daun pisang kering) yang diikat menjadi satu. Obor tersebut dimainkan oleh 40 warga asli Desa Tegalsambi. Untuk menjaga tempo permainan sekaligus sebagai upaya regenerasi, pemain terdiri atas anak muda dan orang tua.
Ratusan obor itu sebelumnya telah diletakkan di beberapa titik jalan desa yang menjadi lokasi pelaksanaan Tradisi Perang Obor.
Baca juga : Mengenal Kintelan, Makanan Khas Tradisi Perang Obor di Tegalsambi Jepara
Kepala Desa Tegalsambi, Agus Susanto menjelaskan, dalam sejarahnya Tradisi Perang Obor berawal dari kesalahpahaman antara Kiai Babadan dan Ki Gemblong.
Kiai Babadan merupakan seorang peternak kaya raya yang memiliki banyak sapi dan kerbau yang dirawat oleh Ki Gemblong.
Dalam merawat hewan ternak, Ki Gemblong termasuk orang yang tekun. Setiap pagi dan sore, hewan ternak tersebut diajak mandi di sungai sehingga selalu bersih dan sehat. Saat memandikan ternak, karena melihat banyak ikan di pinggir sungai, Ki Gemblong kemudian tertarik untuk memancing.
Karena terlalu asyik memancing, Ki Gemblong sampai lupa pada hewan ternak yang dirawatnya sehingga banyak yang terserang penyakit. Kiai Babadan yang mengetahui kondisi itu akhirnya mencari tahu penyebab hewan ternaknya banyak yang sakit.
Setelah mengetahui bahwa hewan ternaknya tidak lagi dirawat oleh Ki Gemblong karena lebih asyik memancing, Kiai Babadan terpancing emosi dan menyerang Ki Gemblong menggunakan pelepah kelapa yang dibakar.
Tidak terima diserang begitu saja, Ki Gemblong melakukan perlawanan balik menggunakan bahan yang sama hingga terjadilah pertikaian. Percikan api dari bahan tersebut membakar jerami yang berada di sekitar kandang dan membuat hewan-hewan ternak lari ketakutan.
“Pada saat mereka bertikai, hewan-hewan ternak tersebut lari tunggang-langgang sehingga beliau berpikir bahwa roh jahat penyebab penyakit sudah pergi dan berwasiat kepada anak cucunya agar tetap melaksanakan Perang Obor untuk mengingat peristiwa tersebut,” jelas Agus usai pelaksanaan Tradisi Perang Obor.
Sebagai inovasi, pada tahun ini pihaknya menambah rangkaian acara sebelum dimulainya Perang Obor, yakni tarian yang memvisualisasikan Tradisi Perang Obor.
Inovasi itu diharapkan mampu menambah daya tarik pengunjung sehingga dampaknya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat yang berjualan di sekitar lokasi.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyampaikan rasa syukur karena pelaksanaan Perang Obor tahun ini berlangsung aman, meriah, dan mendapat perhatian besar dari masyarakat maupun wisatawan luar daerah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, menurutnya, akan terus memberikan dukungan agar penyelenggaraan tahun depan lebih semarak.
“Alhamdulillah Perang Obor tahun ini berlangsung meriah. Kami ingin tahun depan lebih semarak lagi,” pungkas Wiwit.
Editor: Kholistiono

