Mengenal Kintelan, Makanan Khas Tradisi Perang Obor di Tegalsambi Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Perayaan sedekah bumi berupa Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, tidak akan lengkap tanpa makanan tradisional bernama Kintelan.

Setiap pelaksanaan Tradisi Perang Obor yang digelar pada Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan Dzulhijjah, banyak warga memanfaatkan momen tersebut untuk berjualan Kintelan.

Mereka juga hanya menjual Kintelan satu tahun sekali. Salah satunya Saripah (53), warga Desa Tegalsambi. Setiap tahun ia selalu menemani ibunya, Muslihah (83), berjualan Kintelan di sekitar Kantor Balai Desa Tegalsambi.

-Advertisement-

Muslihah menjelaskan, Kintelan terbuat dari adonan tepung ketan yang diuleni dengan santan. Adonan tersebut kemudian diisi enten-enten, yakni parutan kelapa yang dicampur gula merah. Setelah itu, adonan dikukus dan disajikan dengan kuah santan kental.

“Jualnya cuma setahun sekali, pas ada momen Tradisi Perang Obor. Kalau hari-hari biasa tidak jualan,” kata Saripah saat ditemui di depan Kantor Balai Desa Tegalsambi pada Senin (25/5/2026).

Setiap berjualan, Saripah membuat sekitar 10 kilogram adonan Kintelan. Karena hanya dijual setahun sekali, Kintelan tersebut selalu habis terjual. Harganya Rp2 ribu per buah atau Rp10 ribu per bungkus yang berisi enam buah Kintelan.

Tak sekadar mencari uang, berjualan Kintelan saat perayaan Tradisi Perang Obor juga menjadi cara Saripah ikut melestarikan kuliner tradisional tersebut sekaligus berharap berkah dari pelaksanaan tradisi.

Sementara itu, salah satu pembeli, Wachita (46), warga Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, mengatakan Kintelan sebenarnya bisa dijumpai setiap hari di Pasar Apung Jepara.

Namun, bertepatan dengan perayaan Tradisi Perang Obor, Wachita sengaja datang ke Tegalsambi untuk membeli Kintelan sekaligus meramaikan tradisi tersebut.

“Beli tiap hari sebenarnya ada di Pasar Apung. Tapi ini kan pas momennya, jadi sekalian ke sini beli Kintelan,” ujar Wachita.

Menurutnya, Kintelan memiliki rasa manis dari adonan dan isiannya yang berpadu dengan rasa gurih dari santan kental yang disiram di atas Kintelan.

“Rasanya enak, manis gurih, sama kenyal-kenyal, enak lah pokoknya,” tuturnya.

Terpisah, Subkoordinator Sejarah dan Kepurbakalaan, Lia Supardianik, mengatakan berdasarkan cerita tutur, asal-usul Kintelan tidak diketahui secara pasti. Namun, Kintelan tidak bisa dipisahkan dari Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi.

Kintelan yang berbahan dasar tepung ketan dapat dimaknai sebagai “kraketan” yang dalam bahasa Jawa berarti saling mengikat dan merekatkan persaudaraan.

“Kintelan ini sebagai simbol leluhur mereka berdamai dan menjalin kebersamaan kembali,” jelasnya.

Untuk mengenang hal tersebut, saat sedekah bumi desa bersamaan dengan Tradisi Perang Obor, masyarakat Tegalsambi saling mengirim dan memberi makanan Kintelan ke rumah-rumah. Hal itu menjadi simbol untuk merekatkan hubungan antarwarga.

Tak hanya itu, topping atau pelengkap Kintelan juga memiliki makna. Santan kental yang terbuat dari kelapa atau disebut areh dimaknai sebagai pengharapan bahwa sesuatu yang indah perlu diperjuangkan.

“Untuk menjadi santan yang terbuat dari kelapa pembuat areh ini harus memanjat pohon kelapa hingga mengolahnya menjadi santan. Ini tentu menjadi perjuangan yang tidak mudah,” pungkas Lia.

Sebagai upaya melestarikan dan menjaga Kintelan agar tidak punah, saat ini pihak Disparbud Jepara sedang mengajukan Kintelan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER