BETANEWS.ID, JEPARA – Pukul 02.00 dini hari, saat sebagian orang masih terlelap, Agus Susanto, salah satu anggota Komunitas Relawan Jepara (KRJ), harus terbangun setelah mendengar dering telepon dari ponselnya.
Agus atau yang akrab disapa Mbah Lowo ditelepon seorang warga yang meminta bantuan untuk mengevakuasi korban kecelakaan di jalan raya turut Kelurahan Karangkebagusan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Kamis (6/5/2026) dini hari.
Korban merupakan seorang pria warga Kabupaten Pati yang mengendarai sepeda motor dan menabrak truk yang sedang berhenti di pinggir jalan. Kondisinya cukup parah. Pria tersebut mengalami patah tulang di bagian pinggul dan kaki kiri, serta luka robek di kepala.
Setelah tiba di lokasi kecelakaan, Agus langsung mengevakuasi korban menggunakan ambulans menuju RSUD RA Kartini untuk mendapatkan pertolongan.
Hal tersebut menjadi rutinitas harian bagi Mbah Lowo bersama tiga rekannya sebagai sopir ambulans di KRJ. Terbangun pada jam-jam istirahat menjadi hal yang tidak bisa ditawar ketika warga membutuhkan pertolongan.
“Namanya kondisi darurat tidak bisa diprediksi, kadang jam 11 malam, kadang pernah jam 3 atau jam 4, sering ada telepon di jam-jam seperti itu minta bantuan ambulans,” tutur Mbah Lowo saat ditemui di Basecamp Sadifa Jepara, Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
Sebagai relawan yang bergerak atas dasar hati nurani, Mbah Lowo mengaku tidak pernah pilih-pilih dalam memberikan pelayanan ambulans kepada masyarakat.
Terlebih, rata-rata warga yang meminta bantuan merupakan masyarakat kurang mampu secara ekonomi sehingga kesulitan mengakses kendaraan untuk berobat ke rumah sakit.
“Kadang ada yang minta tolong, ‘Pak, kulo gadahe arto sementen (saya punya uang hanya segini),’ saya jawab, ‘Mboten nopo-nopo, Bu. Njenengan gadah arto nggih monggo, mboten nggih mboten nopo-nopo (punya uang atau tidak, tidak menjadi masalah),’” beber Mbah Lowo saat menceritakan kondisi masyarakat yang ditolong.
Dalam sehari, Mbah Lowo bersama tiga rekannya biasa mengantar warga berobat hingga empat sampai lima kali. Bahkan pada momen tertentu, permintaan layanan ambulans bisa mencapai delapan kali dalam sehari.
Dulu, pelayanan tersebut sempat terkendala dan tidak semua permintaan dapat dipenuhi, terutama jika terdapat warga yang harus dirujuk ke luar kota dengan jarak cukup jauh.
Sebelumnya, Mbah Lowo mengatakan mereka sudah memiliki tiga armada ambulans. Namun, karena kondisinya jarang diservis akibat keterbatasan biaya, performa ambulans tidak mampu menjangkau wilayah yang jauh.
Kini, akses Mbah Lowo dan ketiga rekannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih leluasa setelah mendapat bantuan armada ambulans baru. Dengan demikian, total terdapat empat armada ambulans yang dimiliki KRJ.
“Kita sering dimintai bantuan untuk rujuk ke Salatiga, Semarang, Kediri, Bojonegoro, itu sering, ke luar Jepara. Dulu permintaan luar kota dengan jarak jauh tidak bisa kami sanggupi. Tapi alhamdulillah, setelah ada bantuan ambulans dari BRI, jarak jauh sudah bisa kami layani,” ungkapnya.
Meski demikian, saat ini mereka masih terkendala belum memiliki alat bantu gerak untuk membantu pasien masuk ke dalam ambulans. Sebab, rata-rata warga yang diantar sudah berusia lanjut (lansia) dan menderita lumpuh maupun gejala stroke.
“Alat seperti kursi roda atau alat bantu gerak itu kami belum punya. Sudah pernah mengajukan, tapi memang belum mendapat bantuan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Sahabat Difabel Jepara (Sadifa), Muji Waluyo mengatakan armada ambulans yang dimiliki KRJ merupakan bantuan dari BRI Jepara melalui Program BRI Peduli TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) untuk Kelompok Sadifa dan KRJ pada 15 Oktober 2025 lalu.
Waluyo mengatakan dirinya dibantu relawan KRJ untuk mengoperasionalkan ambulans dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami senang bantuan ambulans dari BRI bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Saat banjir bandang di Aceh tahun lalu, ambulans itu juga ikut dikirim ke sana untuk membantu evakuasi warga terdampak,” tutur Waluyo.
Terpisah, Supervisor BRI Jepara, Ahmad Yusuf menjelaskan pihaknya sudah dua kali menyalurkan bantuan ambulans. Pertama pada 2023 kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara, dan kedua pada 2025 untuk Kelompok Sadifa dan KRJ.
Pihaknya memilih memberikan bantuan armada ambulans sebagai solusi untuk memastikan masyarakat memiliki akses terhadap layanan kesehatan.
“BRI tidak hanya bergerak di sektor perbankan dan usaha, tetapi kami juga memiliki tanggung jawab sosial. Harapannya, kami bisa hadir langsung di tengah masyarakat,” katanya saat ditemui Betanews.id.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Muh Ali mengatakan masing-masing desa sebenarnya memiliki anggaran untuk membeli ambulans desa.
Namun, tidak semua desa di Kabupaten Jepara memiliki armada ambulans. Karena itu, keberadaan relawan yang memberikan pelayanan ambulans kepada masyarakat sangat membantu tugas pemerintah daerah.
“Dengan adanya ambulans dari relawan dan bantuan armada ambulans dari BRI, masyarakat yang kesulitan mengakses layanan ambulans menjadi sangat terbantu,” kata Muh Ali.
Editor: Kholistiono

