BETANEWS.ID, KUDUS – Nasib Sutinah (49) dan keluarganya di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, cukup memprihatinkan. Selama enam tahun terakhir, mereka tinggal di lorong sempit di emper rumah tetangga.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga ini ternyata belum pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Padahal, mereka dinilai memenuhi salah satu komponen penerima bantuan.
Sutinah memiliki seorang putri yang masih duduk di bangku SMP kelas VII. Keberadaan anak sekolah merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan bantuan PKH dari Kementerian Sosial.
Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus, Putut Winarno, membenarkan bahwa keluarga Sutinah belum terdaftar sebagai penerima PKH. Meski demikian, sejumlah bantuan sosial lain disebut sudah diterima keluarga tersebut.
“Kalau Bu Sutinah itu masuk desil 1. Bantuan sembako sudah, BLT sementara juga sudah, termasuk PBI jaminan kesehatan,” ujar Winarno saat meninjau kondisi keluarga Sutinah, Rabu (6/5/2026).
Winarno mengungkapkan, bantuan PKH untuk keluarga tersebut akan segera diusulkan agar bisa masuk sebagai penerima.
Baca juga : Tinjau Sutinah yang 6 Tahun Tinggal di Emperan Sempit, Wabup Bellinda Upayakan Bantuan RSLH
“PKH memang belum, segera kami proses pengusulan. Namun, keputusan tetap berada di Kementerian Sosial, daerah hanya bisa mengajukan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, penentuan penerima bantuan PKH selama ini menggunakan sistem by name by address dari pemerintah pusat. Data tersebut tidak bisa langsung diubah meskipun kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak.
“Proses penyesuaian data atau penurunan desil juga tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu waktu dan verifikasi agar data penerima bantuan benar-benar akurat,” ujarnya.
Winarno menuturkan, pihak desa sebelumnya juga telah mengusulkan perubahan data karena melihat kondisi keluarga Sutinah yang membutuhkan bantuan. Namun, proses tersebut masih menunggu persetujuan dari pemerintah pusat.
Pemerintah Kabupaten Kudus memastikan akan terus mengawal usulan tersebut. Diharapkan, keluarga Sutinah segera mendapatkan bantuan PKH agar kebutuhan dasar mereka lebih terjamin.
Sebagai informasi, satu keluarga di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terpaksa tinggal di emperan rumah tetangga dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Selain sempit, tempat tinggal tersebut juga terdapat kubangan air bekas cucian yang mengeluarkan bau tidak sedap.
Keluarga tersebut terdiri atas Sutinah (49), suaminya Sulatin, serta anak semata wayang mereka yang masih duduk di bangku SMP. Mereka menempati emperan rumah milik tetangganya yang masih satu RT.
Ukuran tempat tinggal itu hanya sekitar satu meter kali enam meter. Dindingnya terbuat dari terpal, sementara atapnya sederhana dan kerap bocor saat hujan turun.
Lantainya masih berupa tanah. Tepat di pintu masuk, terdapat kubangan air berwarna hitam pekat yang berasal dari sisa cucian.
Kondisi di dalamnya sempit dan pengap. Perabotan sangat terbatas, dengan tempat tidur seadanya yang digunakan bersama.
Sutinah mengaku sudah enam tahun tinggal di lokasi tersebut. Kondisi itu terjadi sejak suaminya jatuh sakit dan tidak lagi bisa bekerja.
Editor: Kholistiono

