Brayo, Jualan Tradisional yang Ternyata Bisa Turunkan Gula Darah

Di tengah ramainya para penjual di pasar tradisional, terlihat seorang perempuan cekatan mengambil beberapa brayo dan membungkusnya dengan daun jati. Hal itu tampak dari antrean pembeli yang silih berganti. Perempuan tersebut yakni Sunipah (54), penjual brayo di Pasar Soko Puluhan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

Setelah melayani pembeli, warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati itu bersedia berbagi cerita soal usahanya. Ia menuturkan, sudah puluhan tahun menjadi penjual brayo sejak tahun 2014, sejak anak bungsunya belum sekolah hingga kini sudah di bangku SMA.

“Saya sudah sepuluh tahunan lebih jualan brayo, dari anak saya belum sekolah sampai anak ketiga saya kelas sebelah SMA,” terang perempuan yang akrab disapa Um itu saat ditemui beberapa waktu lalu.

-Advertisement-

Baca juga: Gunakan Kuah Susu, Soto Betawi Jadi Favorit Baru di Warung Mubarok

Um memilih menjual brayo karena termasuk jajanan yang langka dan banyak khasiatnya. Brayo yang ia jual berasal dari tanaman mangrove yang ia dapat dari tepi pantai. Biasanya Um memetik dari Pantai Rembang, Juwana hingga Semarang.

“Brayo itu musiman, biasanya saya metik kalau kemarau. Kalau tidak musim ya saya tidak jualan, tapi Alhamdulillah dari Syawal sampai bulan ini saya jualan terus,” jelas ibu tiga anak itu.

Menurut Um, brayo memang disukai masyarakat sejak dulu. Meski rasanya cenderung pahit, brayo banyak khasiatnya, di antaranya sebagai penurun diabetes dan dipercaya mengobati sakit perut.

“Tetangga saya dulunya punya diabetes sampai 400, sekarang bisa turun sampai 100 karena rutin makan brayo. Apalagi minum air rebusannya, malah makin mujarab untuk menurunkan kadar gulanya,” ujar warga asli Jaken, Pati itu.

Ia menuturkan bahwa sebelum direndam, buah tersebut harus dikupas terlebih dahulu, dicuci berkali-kali hingga kulit luarnya terkelupas, lalu direbus dan dibolak-balik agar matangnya merata.

Baca juga: Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus

“Buahnya harus diplereti sampai kulit luarnya terkelupas, pencuciannya juga harus berkali-kali, karena kalau tidak begitu rasanya pahit banget,” bebernya.

Um juga menambahkan, dalam sehari ia bisa menjual 25 kilogram brayo. Satu bungkus brayo dengan topping kelapa parut dihargai Rp1.000 saja.

“Alhamdulillah peminatnya masih bangak. Biasanya saya mulai berjualan sejak pukul 05.30 WIB hingga 09.30 WIB,” tambahnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER