BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus menargetkan produksi padi sepanjang 2026 mencapai 26.930 ton. Target tersebut didasarkan pada luas baku sawah sebesar 17.243,8 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan Dispertan Kudus, Isnuroso, menjelaskan bahwa capaian produksi padi sangat dipengaruhi oleh pola tanam, kondisi cuaca, serta gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terjadi di lapangan. Meski begitu, pihaknya berharap realisasi dapat sesuai target.
“Target produksi tahun ini sebesar 26.930 ton. Namun realisasinya tetap bergantung pada kondisi di lapangan, termasuk banjir, serangan hama, dan pola tanam petani,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Berdasarkan data yang dihimpun, Kecamatan Undaan menjadi wilayah dengan luas baku sawah terbesar, yakni 4.076,6 hektare, disusul Jekulo 3.307,3 hektare dan Mejobo 2.276,8 hektare. Sementara itu, Kecamatan Kota Kudus memiliki luas paling kecil, yakni hanya 97,9 hektare.
Baca juga : 251,61 Hektare Tanaman Padi di Kudus yang Alami Puso Dapat Klaim AUTP, Nilainya Capai Rp1,44 M
Pada awal tahun, khususnya Januari hingga Maret, produksi padi mulai terlihat di sejumlah wilayah. Kecamatan Kaliwungu mencatat panen pada Januari seluas 162 hektare dengan produksi sekitar 538 ton, serta peningkatan signifikan pada Februari menjadi 3.130 ton.
Walau demikian, sejumlah kendala juga muncul. Di Kecamatan Kaliwungu, misalnya, terdapat puso sekitar 21,5 hektare akibat banjir dan serangan tikus. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Jati, di mana pada Desember sebelumnya tercatat puso seluas 12 hektare akibat banjir, serta tambahan 6,3 hektare pada Januari karena serangan OPT seperti tikus, burung, dan penggerek batang.
“Beberapa wilayah memang terdampak banjir dan serangan hama. Ini yang memengaruhi produktivitas di awal tahun,” jelasnya.
Di Kecamatan Jati, produksi pada Maret tercatat sekitar 552 ton, meski sebagian lahan terdampak gangguan. Sementara itu, Kecamatan Kota Kudus belum mencatat panen pada awal tahun.
Memasuki April, produksi mulai meningkat di sejumlah wilayah. Kecamatan Kaliwungu mencatat produksi sekitar 705 ton, sementara Jati mencapai 489,5 ton. Kecamatan Bae, Gebog, dan Dawe juga mulai menunjukkan kontribusi produksi meskipun masih dalam skala terbatas.
Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Undaan dan Mejobo diperkirakan akan memasuki masa panen lebih besar pada bulan berikutnya, seiring dengan pola tanam yang bergeser.
Isnuroso menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan pendampingan kepada petani, termasuk pengendalian hama dan penanganan dampak banjir, guna menjaga produktivitas tetap optimal.
“Kami melakukan pemantauan rutin dan pengendalian OPT, serta koordinasi dengan petani agar potensi hasil tetap maksimal,” ungkapnya.
Editor: Kholistiono

