BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Desa (Pemdes) Kawak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara kembali menggelar sedekah bumi berupa Festival Jondang yang berpusat di Balai Desa Kawak pada Kamis (23/4/2026).
Sejak pagi, ribuan masyarakat dari masing-masing RT tampak memadati area depan Kantor Balai Desa Kawak lengkap dengan jondang yang sudah dihias beraneka rupa.
Total terdapat 26 jondang yang diarak dalam gelaran festival tersebut. Rombongan berjalan mulai dari depan Kantor Balai Desa Kawak hingga Masjid Wali atau Punden Kawak sejauh 2,5 kilometer.
Sepanjang perjalanan, suasana semakin meriah dengan adanya hiburan musik tradisional seperti tongtek hingga sound system yang diangkut menggunakan mobil pikap.
Peserta lain yang berada di belakang turut mengenakan kostum beragam dan ikut meramaikan dengan menari.
Tidak sekadar diarak, jondang yang dibawa warga juga dilombakan. Penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari hiasan, makna isi, nilai tradisional, kreativitas, keunikan, hingga kemeriahan peserta.
Beragam hasil bumi menjadi isi utama jondang, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, pisang, serta buah-buahan. Selain itu, terdapat pula produk kerajinan warga, seperti anyaman bambu hingga ukiran kayu.
Petinggi Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, menjelaskan pada tahun ini tema yang diusung yaitu ketahanan pangan untuk menunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga : Kawasan Pecinan di Welahan Jepara Bakal Dihidupkan Kembali Mulai Tahun Depan
Ia mengatakan, tradisi itu penting untuk terus dilestarikan agar tidak punah dan tetap diteruskan oleh generasi mendatang.
“Jangan sampai generasi ke depan kehilangan budaya daerah. Jondang ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga memiliki filosofi mendalam,” ujarnya saat ditemui di sela-sela pelaksanaan Festival Jondang.
Heri menjelaskan, jondang berasal dari istilah “Jodone Ngandang”, yang dalam filosofi Jawa berkaitan dengan prosesi lamaran hingga pernikahan.
Dahulu, jondang menjadi barang umum yang dimiliki masyarakat, namun kini mulai berkurang seiring perkembangan zaman.
“Di Desa Kawak saat ini masih ada sekitar 30 jondang yang dimiliki warga. Bahkan sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi membawa jondang saat lamaran,” terangnya.
Festival Jondang sendiri mulai digagas sejak tahun 2014 oleh pemerintah desa sebagai upaya pelestarian budaya. Dalam perjalanannya, tradisi ini terus berkembang dan kini menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Ali Hidayat, mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut. Ia menilai tradisi seperti ini harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Kami bangga. Tradisi nguri-nguri budaya seperti ini jangan sampai terhenti,” ujarnya.
Ke depan, kata Ali, Disparbud mendorong agar Festival Jondang bisa diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada 2027.
Dengan pengajuan tersebut, Ali berharap Festival Jondang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menarik perhatian wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.
“Tahun ini ada enam tradisi Jepara yang diajukan menjadi WBTB. Harapan saya, tradisi Jondang ini juga diajukan sebagai WBTB pada 2027 mendatang,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

