Melihat Bulus Keramat di Kudus yang Diberi Uang oleh Para Pengalap Berkah

BETANEWS.ID, KUDUS – Bulusan yang berada di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus menjadi salah satu lokasi yang dikeramatkan masyarakat. Di tempat ini terdapat punden serta kolam berisi bulus yang dipercaya memiliki nilai spiritual.

Keberadaan bulus tersebut tidak lepas dari cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat. Konon, bulus-bulus itu merupakan jelmaan murid Sunan Muria yang terkena sabda.

Pada momen-momen tertentu, lokasi ini ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka datang dengan tujuan ngalap berkah, terutama saat tradisi Bulusan digelar.

-Advertisement-

Di dalam kolam, terlihat banyak uang koin hingga uang kertas pecahan kecil. Uang tersebut diberikan oleh pengunjung sebagai bentuk harapan agar mendapatkan keberkahan.

Sebagian pengunjung melemparkan uang ke dalam kolam sambil memanjatkan doa. Praktik ini sudah menjadi pemandangan umum dan bagian dari tradisi yang berlangsung sejak lama.

Juru kunci Bulusan, Sudasih (73) menjelaskan, bahwa tradisi ini berawal dari kisah masa lalu yang berkaitan dengan Sunan Muria. Ia menyebut, bulus yang ada di lokasi tersebut diyakini masyarakat setempat sebagai jelmaan murid Sunan Muria.

Ketika itu, Mbah Dudo dan Sunan Muria sedang mengajarkan warga sekitar untuk bercocok tanam. Kemudian muridnya berinisiatif mengambil benih.

Baca juga: Tradisi Bulusan Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Berebut Gunungan

Saat Sunan Muria dan Mbah Dudo istirahat dan berbincang-bincang. Ada suara kresek-kresek, spontan Sunan Muria tanpa melihat berkata “bengi-bengi kok kresek-kresek koyok bulus.

” Seketika murid Sunan Muria pun menjadi bulus. Karena sudah terlanjur terkena sabda, kemudian Sunan Muria bertitah bahwa kelak bulus itu akan dihauli masyarakat,” cerita Sudasih, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, tradisi Bulusan ini tidak hanya diikuti warga sekitar, tetapi juga dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai kota seperti Pati, Rembang, Blora, hingga Surabaya.

“Selain sebagai tempat spiritual, kawasan Bulusan juga menjadi ruang berkumpul masyarakat. Tradisi ini sekaligus menjadi momen mempererat kebersamaan antarwarga,” bebernya..

Terkait uang yang ada di dalam kolam, Sudasih menegaskan bahwa hal tersebut pengertian yang keliru oleh masyarakat. Uang tersebut seharusnya dimasukkan ke kotak amal dan nantinya dibelikan ayam untuk para bulus.

“Karena yang datang itu banyak orang, jadi ada yang percaya khajatnya akan lebih terkabul jika membuang uang ke dalam kolam bulus. Jadi kita tidak bisa melarang kepercayaan tersebut,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, tradisi Bulusan sendiri biasanya digelar setiap 8 Syawal dengan berbagai rangkaian kegiatan. Mulai dari kirab, kenduren, hingga pertunjukan seni yang menarik antusias masyarakat.

“Keberadaan tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih terjaga di tengah perkembangan zaman. Bulusan tidak hanya menjadi simbol kepercayaan, tetapi juga warisan budaya yang terus dilestarikan,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER