Laku Keras, 8 Kilogram Kue Gandos dan Pukis Tiga Putra Ludes Setiap Hari

Di sebuah lapak, sejumlah kue gandos tampak tersusun rapi di atas nampan berwarna merah. Di sampingnya, terlihat juga beberapa pukis yang sudah dimasukkan ke mika plastik. Lapak Kue Gandos dan Pukis Tiga Putra itu adalah milik Heru Wahyudi.

Heru begitu ia akrab disapa, sudi berbagi cerita tentang usaha tersebut. Ia menjelaskan, bahwa dulu dirinya adalah seorang guru honorer di salah satu SMK di Kudus.

Pada tahun 2019, kondisi perekonomian Heru bisa dikatakan tidak baik. Karena desakan ekonomi itulah, ia akhirnya memutuskan untuk berjualan kue gandos dan pukis.

-Advertisement-

Baca juga: Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik

“Saya memulai ini ya karena desakan ekonomi. Akhirnya saya putar haluan jualan gandos sama pukis,” ungkap salah satu alumnus Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu.

Meski sempat menyelesaikan pendidikan sampai dengan sarjana, Heru mengaku tidak keberatan jika saat ini harus berjualan. Menurutnya, asalkan rupiah yang ia dapatkan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, ia akan kerjakan.

“Awalnya ya malu. Tapi seiring berjalannya waktu, lihat uangnya, lama-lama malu itu hilang sendiri. Karena kalau tetap jadi guru, gajinya cuma cukup untuk dua minggu,” bebernya.

Sebenarnya, Heru memutuskan berhenti mengajar pada tahun 2016. Sebelum merintis usahanya, pria yang berdomisili di Pasuruan Lor, Jati Kudus itu pernah bekerja pada orang lain sebagai penjual kelapa. Karena dirasa kurang cocok, akhirnya ia mantap memulai berjualan kue gandos dan pukis di depan Lapangan Rendeng.

“Kalau buka setiap hari, mulai pagi pukul 07.00 hingga sore pukul 16.00 WIB. Untuk kue gandos saya jual dengan harga Rp6.000 per porsi, sedangkan pukis harganya Rp1.000 per biji,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dalam sehari, Heru mampu menghabiskan dua sampai dengan empat termos adonan. Setiap termosnya berisi 2 kilogram adonan. Dari setiap termosnya, ia bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp150.000 ribu.

Baca juga: Lima Motif Tenun Troso Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis 

“Dulu waktu pertama buka, hanya bawa setengah termos. Makin hari kok makin ramai, akhirnya saya tambah bawanya,” terangnya.

Saat ini, Heru sudah memiliki dua lapak. Ia sendiri mengelola lapak pertamanya. Sedangkan untuk lapak kedua ia serahkan ke anak sulungnya yang kini juga sedang menempuh pendidikan sekolah menengah.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER