Siang itu, seorang pria paruh baya mengenakan baju perpaduan warna putih-biru tampak sibuk menusuk bakso menggunakan tusuk sate. Setelah ditusuk dan dibalut dengan telur, bakso-bakso tersebut kemudian di goreng. Dia adalah Temon (70), penjual Bakso Goreng.
Ternyata, bakso goreng buatan Temon cukup dikenal warga Gebog. Saat ditemui beberapa waktu yang lalu, Temon sudi bercerita tentang usahanya. Ia menjelaskan, bahwa usaha ini awalnya dimulai sejak tahun 2009.
“Awalnya ya jualan di Kidangan, dekat pabrik Sukun. Terus pindah tempat karena Kidangnya di pindah ke timur, mau jualan di sana tapi tidak ada tempatnya, jadinya sekarang jualan di depan SMP 1 Gebog,” jelasnya.
Baca juga: Hadir di Tengah Kota Kudus, Grit Coffee & Chill Tawarkan Cita Rasa Muria
Berbeda dari kebanyakan pedagang, Temon menciptakan resep bakso gorengnya sendiri tanpa terinspirasi dari siapapun. Ia hanya menggunakan bahan dasar ikan dan tepung. Proses pembuatannya pun cukup memakan waktu, adonan dibentuk dengan tangan, lalu direbus sebelum akhirnya siap untuk dijual.
“Buka setiap hari, dari pukul 09.00 WIB hingga 16.30 WIB. Sehari bisa laku 500 tusuk bakso goreng, kalau adonan bisa habis 15 kilogram. Harganya murah, hanya Rp1.000 per tusuk, pembelinya biasa dari berbagai kalangan, terutama pelajar dan warga sekitar,” ujar Temon.
Perjalanan usaha Temon tidak selalu mulus. Sebelum menjual bakso goreng, Temon sempat mencoba berjualan sosis goreng. Sayangnya, kenaikan harga sosis memaksanya berinovasi. Ia kemudian beralih menjual bakso goreng karena bahan-bahannya lebih mudah didapat dan terjangkau.
Baca juga: Obong Satay, Sate Ayam Khas Kudus yang Tak Pernah Sepi Pembeli
“Yang jadi tantangan itu proses pembuatannya, lama sekali. Tapi kalau lihat orang-orang suka dan datang lagi, capeknya terus hilang,” bebernya sambil tersenyum.
Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

