31 C
Kudus
Senin, Februari 16, 2026

Ini Rencana Strategis Disbudpar Kudus untuk Dongkrak Pesona Colo dan Museum Kretek

BETANEWS.ID,PATI-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus tengah serius untuk menata ulang sektor pariwisata yang di bawah naungannya. Prioritas itu ditujukan pada kawasan wisata Colo dan Museum Kretek.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto, menegaskan bahwa kawasan wisata Colo menjadi salah satu prioritas pengembangan pada 2027. Fokus utama diarahkan pada penataan Terminal Colo serta penguatan branding Museum Kretek guna mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurut Teguh, Terminal Colo menjadi perhatian pertama karena telah berkontribusi terhadap PAD melalui retribusi parkir. Oleh karena itu, pemerintah memiliki kewajiban memberikan timbal balik berupa peningkatan fasilitas dan kenyamanan bagi pengunjung maupun pengguna kendaraan.

-Advertisement-

Baca juga: Launching SPPG Polres Kudus, Bupati Sam’ani: “MBG Cerdaskan Anak dan Serap Tenaga Kerja

“Karena sudah menghasilkan PAD, maka kewajiban kita (pemerintah) memberikan kenyamanan. Baik kepada pengguna kendaraan maupun wisatawan,” katanya di Kantor Disbudpar Kudus, belum lama ini.

Penataan yang diusulkan meliputi perbaikan landasan parkir, penyediaan area duduk, serta rest area dengan konsep nyaman yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama Kudus dari kawasan Colo.

“Ketika pemerintah memungut retribusi, harus ada imbal jasa yang bisa dinikmati langsung oleh pengunjung. Selain parkir yang tertata, area istirahat juga harus didukung rest area yang representatif,” jelasnya.

Meski usulan tersebut berada di luar pagu indikatif awal 2027, pihaknya tetap optimistis rencana itu dapat direalisasikan karena berdampak langsung terhadap peningkatan PAD sektor pariwisata.

Selain Terminal Colo, Disbudpar juga mengusulkan penguatan branding Museum Kretek agar mampu bersaing dengan museum lain di Kudus, termasuk museum swasta seperti Museum Jenang.

Teguh menilai, Museum Kretek perlu dikemas lebih informatif dan atraktif. Selama ini, menurutnya, masih banyak pengunjung yang belum memahami secara utuh sejarah Kudus sebagai Kota Kretek.

“Pengunjung sering hanya tahu soal rokoknya, padahal sejarahnya lebih luas, tentang siapa tokohnya, bagaimana awal mula kretek dari Kudus, hingga warisan budayanya. Benda di museum tidak bisa berbicara, maka harus kita fasilitasi dengan diorama, video, dan audio yang dapat membuat pengunjung memahami arti sejarah,” terangnya.

Ia berharap, ketika wisatawan keluar dari Museum Kretek, mereka tidak hanya melihat koleksi fisik, tetapi juga memahami narasi sejarah yang utuh tentang Kota Kretek.Dalam rencana pengelolaannya, Disbudpar juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta.

Teguh menyebut pihaknya telah berkonsultasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk memastikan aspek regulasi dan legalitas kerja sama berjalan sesuai aturan.

Kajian penilaian aset juga akan dilakukan melalui Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), sementara mekanisme lelang direncanakan melalui KPKNL agar prosesnya transparan dan kompetitif.

“Kalau dilelang dan peminatnya lebih dari satu, kita bisa melihat siapa yang paling siap dan mampu mengelola dengan baik. Ujungnya tetap pada peningkatan PAD,” tegasnya.

Dengan perencanaan yang lebih detail dan matang, Disbudpar Kudus berharap pengelolaan wisata Colo pada 2027 benar-benar mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus mendongkrak kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER