BETANEWS.ID, PATI – Sejumlah petani di Kabupaten Pati kini hanya bisa pasrah. Sawah yang telah ditanami padi ikut kebanjiran hingga gagal panen. Tak ayal mereka dibayang-bayangi kerugian yang cukup besar.
Sikap pasrah itu seperti dirasakan oleh Sunaryo, petani asal Desa Widorokandang, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Tanaman padi yang seharusnya dipanennya, kini justru puso setelah terendam banjir selama lebih dari dua pekan.
Baca Juga: Tak Cuma Ukir, Jepara Juga Krisis Regenerasi Pengrajin Remitan
Meski begitu, dia tetap memanennya. Bersama sejumlah petani lainnya, dia terpaksa harus menerobos banjir untuk mengambil gabah yang tersisa. Bulir padi itu harus ditempatkan diatas terpal agar mudah dibawa ke tempat yang tidak tergenang air.
Hanya saja gabah itu tak lagi direncanakan untuk dijual. Mereka memilih memanen untuk diberikan kepada bebek yang dipelihara lantaran sudah tak layak makan.
Padi itu tetap harus dipanen agar dia bisa kembali mengolah sawahnya saat banjir benar-benar surut.
“Ini terpaksa dipanen, supaya tidak membusuk di sawah. Sudah dua minggu lebih terendam banjir, padinya sudah tidak bisa dipanen lagi. Ini nanti untuk pakan bebek,” ucap Sunaryo.
Padahal katanya, jika lahan sawah yang kebanjiran di Desa Widorokandang cukup luas. Sedikitnya ada 300 hektare sawah di desa yang puso atau gagal panen.
“Kerugiannya tentu sangat besar karena tidak bisa lagi dipanen,” ungkapnya.
Baca Juga: Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ratri Wijayanto mengatakan, lahan sawah yang terdampak banjir mencapai 14.438 hektare. Akibatnya kerugian akibat banjir ditaksir mencapai Rp301 miliar.
“Terkait potensi kerugian itu, saat ini sedang dilakukan proses klaim asuransi tani. Sekitar seribu hektare. Juga tengah diusulkan pengajuan bantuan benih padi,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

