BETANEWS.ID,JEPARA- Daerah yang berada di Kawasan Muria Raya, terutama Pati-Jepara-Kudus sejak beberapa hari terakhir dikepung bencana hebat mulai dari banjir hingga tanah longsor.
Akademisi sekaligus Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK), Hendy Hendro mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa bencana itu. Salah satunya alih fungsi lahan.
Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop
Hendi menjelaskan curah hujan selama satu minggu terakhir memang terbilang cukup tinggi bahkan masuk kategori ekstrem yaitu diatas >150 mm.
“Maka tak mengherankan jika di beberapa desa di kawasan Muria, termasuk Tempur (Jepara) dan Rahtawu (Kudus) mengalami bencana hidrometrologi berupa tanah longsor dan banjir bandang,” katanya pada Kamis, (15/1/2026).
Hendi melanjutkan secara geografis letak Desa Tempur dan Rahtawu memang bersebelahan dan berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kudus. Posisi keduanya berada persis di pegunungan Muria.
Sehingga dua wilayah desa itu memiliki kemiripan karakteristik. Secara geologis, keduanya juga mempunya formasi vulkanik dan letaknya masing-masing berada dalam bekas kawah gunung api Muria purba.
Selain itu, lanjut Hendy, kedua desa itu juga memiliki struktur geologi patahan atau sesar yang menjadi satu garis patahan, yang termasuk dari sesar Muria.
Akibatnya, dua desa tersebut memiliki topografi dengan lereng-lereng yang curam dan terjal. Sehingga struktur geologinya menjadi lemah dan labil, apalagi jenis tanahnya termasuk pasir tufaan, yang menjadikan tanah labil.
“Setiap puncak musim hujan seperti saat ini, kondisi tanah yang labil itu juga mudah sekali jenuh air. Kondisi inilah yang menjadikan kedua daerah itu rentan terhadap tanah longsor,” jelas Hendy.
Tidak hanya secara geografis, peristiwa tanah longsor di kedua desa itu salah satu penyebabnya yaitu adanya perubahan penggunaan lahan atau alihfungsi lahan, seperti dari lahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun permukiman.
Yang mengakibatkan berkurangnya tutupan vegetasi hutan.
Hendy menyebut penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi dapat memperparah keadaan meningkatnya erosi tanah. Kemudian, pembangunan di lereng yang curam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan tata ruang dapat meningkatkan risiko erosi tanah atau longsor.
Berdasarkan data satelit yang dijadikan rujukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian Taman Hutan Raya (Tahura), per tahun 2024 menunjukkan hanya 7.287 hektare area tutupan hutan asli yang tersisa di kawasan Muria.
“Memang, deforestasi atau alihfungsi lahan membuat kondisi bencana saat ini semakin parah,” ungkapnya.
Melihat kondisi saat ini, Hendy mengusulkan agar pemerintah membuat suatu kebijakan pengelolaan risiko bencana secara terintegrasi dan holistik.
Termasuk peningkatan sistem peringatan dini, peningkatan infrastruktur yang tahan longsor, serta meningkatkan kesadaran dan edukasi masyarakat tentang tindakan mitigasi.
Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak
Di samping itu, lanjut Hendy, masyarakat juga mempunyai peran kunci dalam mengatasi dan mengurangi risiko longsor. Caranya, dengan berperan aktif dalam menjaga lingkungan, melakukan konservasi dan rehabilitasi lahan.
“Masyarakat juga diharapkan menaati aturan serta kebijakan pemerintah dalam menata suatu kawasan,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

