BETANEWS.ID, KUDUS – Tingginya curah hujan yang mengguyur Kabupaten Kudus mengakibatkan bencana banjir di wilayah Kabupaten Kudus kian meluas. Kini beberapa desa mengalami banjir, seperti yang terjadi di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati.
Akses jalan terputus, sehingga membuat warga terisolir karena sudah tak dapat dilalui kendaraan roda dua. Sebanyak 60 warga Jetiskapuan terpaksa dievakusi dan diungsikan ke tempat aman, lantaran air menggenang pemukiman dengan ketinggian hampir menyentuh satu meter. Meski begitu, sebagian warga masih bertahan di rumahnya dengan logistik yang ada.
Baca juga:Â Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer
Proses evakuasi penyelamatan bagi warga terdampak berlangsung cukup lama. Warga dievakusi menggunakan perahu karet dibantu petugas BPBD, relawan, serta TNI-Polri.
Camat Jati, Mochammad Zainuddin mengatakan, banjir terjadi di Desa Jetiskapuan sejak Selasa (13/1/2026) kemarin. Genangan semakin tinggi, ketika hujan terus mengguyur hingga mengakibatkan Sungai Bakinah meluap.
“Lokasi terparah berada di RW 5 dengan ketinggian berkisar 70-80 sentimeter, baik persawahan dan pemukiman warga tertutup oleh air semua. Sehingga warga harus dievakuasi ke Gedung Muslimat Desa Loram Kulon,” terangnya saat ditemui di lokasi, Rabu (14/1/2026).
Pihaknya menyebut akan mendirikan dapur umum di Kantor Kecamatan Jati, untuk mencukupi kebutuhan logistik bagi warga. Menurutnya, logistik nantinya akan dipusatkan jadi satu kepada warga yang masih bertahan di lokasi banjir.
“Kami akan menyiapkan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi warga yang menetap di rumah,” ucapnya.
Petugas Kesehatan dari Puskesmas Jati juga turut memberikan layanan ke rumah-rumah warga terdampak melalui perahu. Bahkan, salah satu warga yang membutuhkan perawatan medis ke rumah sakit harus dievakusi segera dengan perahu.
Tak sedikit pula warga mengeluhkan bahwa banjir menyebabkan penyakit demam hingga gatal-gatal.
Salah satunya diungkapkan oleh Siti Munawaroh, warga Desa Jetiskapuan RT 2 RW 5. Banjir yang sudah melanda rumahnya dua hari ini menyebabkan anggota keluarganya demam. Dia pun mengaku terserang gatal-gatal dan kutu air.
“Keponakan sakit batuk pilek, kaki saya juga mulai gatal-gatal karena banjir,” ujar wanita yang kini berusia 39 tahun tersebut.
Hal senada juga dikatakan Suhermanto. Pria berusia 36 tahun itu mengaku rumahnya tergenang selama dua hari ini. Menurutnya, awalnya air belum masuk ke dalam rumah, namun saat ini genangan air di rumahnya mencapai 30 sentimeter.
Dia berharap, supaya banjir di desanya segera surut. Apalagi logistik makanan yang berada di rumahnya hanya mampu untuk menghidupi dirinya dan anggota keluarganya selama satu pekan ke depan.
Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran
Hal itu ditambah sejak tiga minggu lalu Suhermanto tidak bekerja lantaran banjir. Keputusannya untuk tidak mengungsi lantaran khawatir dengan kondisi anak-anaknya.
“Anak masih kecil, tahun lalu kami mengungsi tapi anak saya tidak betah karena terlalu ramai,” ujar bapak dua anak ini.
Editor: Haikal Rosyada

