BETANEWS.ID, JEPARA – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara sejak Jumat, (9/1/2025) malam terisolir akibat dikepung bencana tanah longsor yang terjadi di beberapa titik.
Total terdapat 18 titik ruas jalan yang sampai saat ini masih tertutup material longsor yang mengakibatkan akses keluar masuk menuju desa yang berada di sebelah timur Lereng Gunung Muria itu tertutup total.
Camat Keling, Lulut Andi Riyanto mengatakan material longsor tidak hanya menutup akses jalan, tetapi juga merobohkan tiang jaringan listrik. Sehingga membuat aliran listrik di Desa Tempur saat ini juga mati.
Baca juga: 18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total
Dari pihak PLN, menurut Lulut sudah melakukan koordinasi. Hanya saja, karena kondisi cuaca di lapangan masih terjadi hujan deras disertai angin kencang, pihak PLN belum bisa melakukan perbaikan pada tiang jaringan listrik yang roboh.
“PAL jaringan listrik PLN ini juga banyak yang roboh, tidak hanya satu dua. Semalam kami sudah berkoordinasi. Tapi mereka belum berani bergerak ketika kondisi masih seperti ini. Bawa kabel yang ada aliran listrik ini kan rawan, resikonya tinggi,” kata Lulut saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (10/1/2026).
Untuk kebutuhan jaringan listrik, Lulut mengatakan warga Desa Tempur biasanya menggunakan genset berbahan bakar BBM. Namun, karena akses masih tertutup total, penyaluran logistik itu saat ini masih terkendala.
“Logistik yang kemungkinan terkendala ini BBM untuk menyalakan genset, karena listriknya padam,” ujar Lulut.
Lulut melanjutkan, upaya untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor saat ini masih terus dilakukan.
Fokus utama saat ini yaitu mencari jalur alternatif agar bantuan logistik bagi warga bisa tersalurkan. Salah satunya dengan berkomunikasi dengan komunitas trail untuk mencoba apakah bisa melewati jalur yang bisanya mereka lewati.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah
“Sudah kita lakukan beberapa cara untuk membuka jalur, termasuk komunikasi dengan komunitas trail, bisa ngga pakai jalur yang biasanya buat trabas, dipakai untuk nembus kesana. Minimal nanti bisa kita pakai untuk jalur distribusi,” jelas Lulut.
Akibat kondisi cuaca yang belum membaik, Lulut mengatakan potensi terjadinya longsor susulan juga dikhawatirkan akan kembali terjadi.
“Kondisi di lapangan memang tidak mudah. Ketika kita bersihkan bagian depan, saat mau ke jalur selanjutnya , ternyata yang belakang longsor lagi,” ungkap Lulut.
Editor: Suwoko

