31 C
Kudus
Senin, Februari 16, 2026

Program LMS PLN Jadikan Petani Kudus Lebih Produktif dan Wujudkan Swasembada Pangan

BETANEWS.ID, KUDUS – Deru mesin pemanen padi memecah hangat suasana pagi di area persawahan Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Selasa (28/10/2025). Raut bahagia terpancar dari wajah beberapa petani yang berdiri di Jalan Usaha Tani (JUT), padi yang ditanam pada Masa Tanam (MT) ke-3 empat bulan lalu sudah mulai panen.

Beberapa tahun terakhir area persawahan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, termasuk di Desa Kedungdowo memang bisa ditanami padi hingga tiga kali dalam satu tahun. Untuk pengairan, para petani mengandalkan air sumur dalam maupun sumur dangkal yang dipompa.

Baca Juga: Masuki Musim Hujan, Bupati Sam’ani Tinjau Langsung Kesiapsiagaan BPBD Kudus

-Advertisement-

Adanya program Listrik Masuk Sawah (LMS) dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) membuat para petani bisa menyalakan pompa, tanpa perlu khawatir membengkaknya biaya produksi.

Pengairan lahan pertanian di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus selama ini dikelola oleh beberapa kelompok tani (poktan), satu di antaranya adalah Sumber Makmur.

Sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Noor Hadi mengatakan, mulai mengunakan tenaga listrik PLN untuk menyalakan pompa irigasi lahan pertanian sejak tahun 2022. Sejak itu pula, para petani bisa menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.

“Karena bisa tanam padi tiga kali, para petani bisa lebih produktif. Serta, tentunya lebih menguntungkan,” ujar Hadi, Selasa (28/10/2025).

Seorang petani Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus sedang menyalakan meteran listrik. Foto: Rabu Sipan

Sebelum ada program LMS dari PLN, kata Hadi, para petani mengandalkan diesel bahan bakar minyak (BBM) untuk mengairi lahan pertanian. Tetapi perawatannya lebih mahal, proses mendapatkan BBM bersubsidinya juga cukup berbelit.

“Selain itu, harga panen gabah juga tidak stabil. Sehingga bukannya untung, para petani malah sering buntung. Oleh karena itu, kami dulu memilih menanam padi hanya dua kali dalam setahun,” bebernya.

Berbeda dulu dengan sekarang, kata dia, sejak menggunakan listrik PLN untuk mengairi sawah, para petani antusias untuk menanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Karena tak ada kendala sama sekali untuk urusan pengairan.

“Hasil panen pun lebih maksimal. Pengoperasiian pompa menggunakan listrik dari PLN juga lebih mudah dan lebih hemat, jadi petani bisa lebih untung,” ungkapnya.

Apalagi, lanjutnya, di era kepimpinan Presiden Prabowo Subianto ini para petani merasa lebih diperhatikan. Harga gabah panen stabil dan pupuk bersubsidi juga mudah didapat.

“Di eranya bapak Prabowo ini, kami makin antusias menanam padi. Dukungan dari PLN dan kebijakan presiden yang berpihak kepada para petani, maka kesejahteraan itu tak lagi fatamorgana bagi kami para petani,” sebutnya.

Pogram LMS PLN Bantu Swasembada Beras di Kudus

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus, Muhamad Isnuroso menyampaikan, total lahan pertanian pangan di Kudus pada tahun 2025 luasannya kurang lebih 16 ribu hektar. Lahan tersebut menyusut dibanding lima tahun sebelumnya yang luasnya mencapai 21 ribu hektare.

“Namun untuk produktifitas padi di Kabupaten Kudus tetap terjaga. Bahkan, beberapa tahun terakhir mampu swasembada beras,” ujar Isnu di ruang kerjanya, Rabu (29/10/2025).

Swasembada beras di Kabupaten Kudus, kata Isnu, tak terlepas karena beberapa wilayah lahan pertanian yang mampu ditanami dan panen padi hingga tiga kali. Selain keberadaan Bendungan Logung, keberadaan sumur dalam dan sumur dangkal turut membantu para petani di Kudus lebih produktif.

Isnu mengungkapkan, total di wilayah pertanian di Kabupaten Kudus terdapat lima sumur untuk irigasi sawah. Terdiri tiga sumur di Kecamatan Kaliwungu, satu di Kecamatan Jati, dan satu lagi di Kecamatan Gebog.

“Air sumur disedot dengan pompa yang dinyalakan menggunakan arus listrik PLN. Masing-masing sumur biasanya dikelola oleh satu kelompok tani untuk mengairi 10 hektare sawah,” bebernya.

Dia mengungkapkan, sebelumnya para petani di Kudus mengandalkan pengairan dari irigasi Waduk Kedungombo dan tadah hujan. Oleh karena itu, sawah hanya bisa ditanami padi dua kali dalam setahun, bahkan ada juga yang hanya sekali saja.

Setelah ada sumur dangkal dan sumur dalam yang dioperasikan menggunakan lsitrik PLN, para petani di sebagian wilayah Kudus mulai bisa menanam padi hingga tiga kali. Jadi petani lebih produktif, dan membantu Kudus swasembada pangan, khususnya beras,” sebutnya.

Baca Juga: RS Mardi Rahayu Gelar Gathering untuk Komunitas Peduli Stroke 

Isnu menyampaikan, satu hektare bidang sawah di Kabupaten Kudus biasanya mampu menghasilkan tujuh ton gabah. Jika dikali 16 ribu hektare sawah maka tiap tahun, Kota Kretek mampu menghasilan 112 ribu ton gabah setiap panennya.

“Dengan jumlah penduduk 800 ribuan jiwa dan sebagian lahan pertanian bisa ditanami padi tiga, Kabupaten Kudus dalam beberapa tahun terakhir memang selalu surplus untuk produksi gabah,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER