BETANEWS.ID, JEPARA — Berbekal peralatan sederhana, Purnomo (52), warga Desa Kaligarang, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, dengan penuh semangat memulai kembali usaha bisnisnya setelah sempat terpuruk dan mengalami kerugian senilai ratusan juta rupiah.
Ditemui di kediamannya, RT 6 RW 2 Desa Kaligarang, Purnomo bercerita bahwa ia telah menggeluti bisnis budidaya jamur tiram selama 20 tahun. Awalnya, ia memulai usaha tersebut pada tahun 2005.
Baca Juga: Bamantara Guppy Farm, Hobi yang Berubah Jadi Sumber Rezeki
Bisnis budidaya jamur tiram yang kini mampu menghasilkan rata-rata 70–100 kg jamur per hari, hal tersebut tidak dibangun dengan usaha yang instan.
Sebelum menggeluti usaha budidaya jamur, Purnomo bercerita bahwa dulunya ia merupakan eksportir mebel. Saat terjadi krisis moneter di Indonesia yang mengakibatkan nilai dolar naik dan rupiah anjlok, banyak pemasok mebel yang, menurut Purnomo pada waktu itu, terjun langsung bahkan hingga ke daerah pelosok.
Saat itu, Purnomo mendapatkan pesanan dari pemasok asal Belgia. Usaha tersebut sempat berjalan sekitar satu tahun lebih. Hingga akhirnya, pada tahun 2000, usaha itu mandek dan gulung tikar karena mebel yang telah ia produksi gagal dibayar.
“Dulu saya usaha mebel, ekspor sendiri. Mulai sekitar tahun 1997. Di tahun 2000, saya pernah kena komplain. Ada pembeli pesan dengan nominal sekian ratus juta, tidak dibayar. Waktu itu kami kirim beberapa kontainer, tidak dibayar. Akhirnya saya mencari sesuatu yang tidak berhubungan dengan negara luar,” katanya kepada Betanews.id, Sabtu (18/10/2025).
Setelah gulung tikar, Purnomo mengaku tidak langsung menggeluti budidaya jamur. Sebelumnya, ia sempat beberapa kali mencoba usaha budidaya di bidang lain, yaitu ternak kambing etawa dan ternak lele.
Namun, lagi-lagi usaha yang ia bangun tidak berjalan dengan mudah. Saat beternak kambing etawa dan lele, ia kembali gulung tikar dan mengalami kerugian modal.
Akhirnya, pada tahun 2004, Purnomo memutuskan untuk merantau ke luar kota dan bergabung dengan temannya menjadi pemborong interior hotel.
Satu tahun berjalan, pada tahun 2005, muncul keinginan dalam diri Purnomo untuk pulang ke Jepara.
“Dari usaha mebel ke jamur itu tidak langsung. Jeda lima tahun. Jatuhnya mebel itu tahun 2000, sempat beberapa bulan berhenti tidak bekerja. Tapi prinsip saya, saya selalu bersandar pada Tuhan, sehingga pasti ada jalan,” ujar Purnomo.
Setelah kembali ke kampung halaman, Purnomo mendapatkan informasi mengenai pelatihan budidaya jamur tiram yang berlokasi di Kota Yogyakarta.
Untuk mengikuti pelatihan tersebut, menurut Purnomo, tidak gratis. Ia harus membayar sebesar Rp3 juta untuk tiga hari pelatihan.
“Setelah pelatihan, pulang, lalu praktik. Waktu itu alatnya masih sederhana, belum ada mesin pres, mixer, steamer, masih pakai drum kecil-kecil,” ungkap Purnomo.
Di awal usaha, Purnomo mengatakan bahwa ia baru bisa memproduksi baglog atau media tanam jamur sendiri. Sedangkan untuk bibitnya, ia masih membeli dari luar.
Untuk mengembangkan usaha budidaya jamur, Purnomo mengaku membutuhkan waktu lima tahun hingga usahanya bisa berjalan dalam skala yang cukup besar.
Waktu itu, terdapat 30 petani mitra yang bergabung dengan usaha budidaya jamur miliknya. Purnomo juga mulai dipanggil untuk memberikan pelatihan budidaya jamur, mulai dari instansi sekolah, organisasi karang taruna, hingga ibu-ibu PKK dari berbagai desa di Kabupaten Jepara.
“Pelatihan dulu saya masih sering buka, sering diundang juga. Sekarang kalau pelatihan di rumah sudah saya batasi, karena saya tidak mau menjual ilmu. Tapi kalau ada yang datang ke rumah, saya ajari gratis, tidak usah bayar,” ujar Purnomo.
Saat ini, Purnomo memiliki dua rumah kumbung atau tempat produksi jamur dengan ukuran 8 × 30 meter. Satu rumah kumbung memiliki kapasitas sekitar 30 ribu baglog.
Dengan rata-rata hasil panen sekitar 70–100 kg per hari, Purnomo bisa memanen 2 ton 4 kuintal atau sekitar 2.400 kg jamur per bulan.
Baca Juga: Gunakan Pewarna Alami dan Corak Lokal Jadi Cara April Kenalkan Batik Khas Jepara
Terdapat tiga jenis jamur yang ia budidayakan, yaitu jamur tiram putih, jamur tiram cokelat, dan jamur truffle khusus untuk ekspor. Untuk harganya, jamur tiram putih berkisar Rp15.000–Rp16.000 per kg, sedangkan jamur tiram cokelat Rp20.000 per kg.
“Omzetnya rata-rata, kalau dikalikan dengan kisaran harga tengahnya, sekitar Rp36 juta per bulan,” ungkap Purnomo.
Editor: Haikal Rosyada

