BETANEWS.ID, PATI – Pasar Juwana Baru terlihat cukup sepi, pagi itu. Beberapa toko di pasar yang berada di Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati itu tampak tutup. Hanya ada beberapa pedagang yang tetap buka dan duduk bercengkerama dengan pedagang lain sambil menunggu pembeli.
Menengok ke dalam, kios-kios pakaian yang biasanya ramai diserbu warga saat bulan Ramadan juga tak banyak aktivitas yang bisa ditemui. Sepinya pasar ini, membuat Eko Siswanto cukup was-was. Bahkan ia mengaku, lengangnya pasar sudah berlangsung beberapa minggu ini.

“Kondisinya sepi. Ya sejak ada wabah ini, pasar jadi sepi sekali. Biasanya kalau mau lebaran banyak pembeli, tapi ini sepi. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya,” keluhnya saat ditemui, Senin (27/4/2020).
Dengan kondisi tersebut, pria yang jualan di Blok 1 itu mengaku cukup keberatan untuk membayar retribusi, lantaran omzetnya turun drastis. Makanya, ia berharap adanya keringanan pembayaran retribusi.
Baca juga: Pemkab Kudus Gratiskan Retribusi Pasar Selama Tiga Bulan
“Bisa dilihat sendiri suasananya. Bahkan beberapa toko memilih tutup lebih awal, atau nggak buka dulu karena tidak ada yang beli,” ungkap pria yang jualan bersama istri dan dua anaknya itu.
Menurut pria asli Juwana itu, jika pun tidak bisa digratiskan, pembayaran retribusi bisa dikurangi karena sama-sama susah. Sehingga, pedagang masih bisa menggunakan penghasilannya tiap hari untuk kebutuhan lain.
“Ya harapannya ada keringanan. Misal dari Rp 5 ribu per hari, kalau bisa bayar setengahnya. Sistemnya, kalau toko semacam saya ini tiap buka harus bayar retribusi. Lha ini dari buka aja baru ada pembeli dua orang tadi. Belum lagi yang retribusinya Rp 300 ribu per bulan, mau buka atau tidak. Kan kasihan itu,” kata Eko.
Eko lantas membandingkan, sebelum ada virus Corona, setiap hari ia mampu meraup omzet hingga Rp 2 juta. Namun sejak adanya wabah, penghasilannya menurun drastis hingga hanya memperoleh sekitar Rp 300 ribu per hari.
Baca juga: Atur Jarak Pedagang Pasar, Ganjar Minta Seluruh Daerah Tiru Salatiga
“Saya akan tetap membuka toko, karena ini tempat kami mendapatkan penghasilan,” tutup pria yang sudah berjualan di pasar selama 12 tahun itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

