31 C
Kudus
Selasa, Februari 17, 2026

Dua Tahun Padi Diserang Tikus, Petani Desa Banget Kudus Tetap Untung Berkat Presiden Prabowo

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria petani terlihat mengecek tanaman padi di area persawahan di Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Tampak pria tersebut juga memperbaiki lampu bolam yang berpenyangga bambu.

Bolam tersebut terhubung dengan kabel yang dapat dialiri arus listrik dan bakal menyala ketika malam hari. Hal tersebut merupakan bagian alat dari penanggulangan hama tikus menggunakan setrum listrik.

Baca Juga: Berkat Sumur Dalam, Petani Desa Banget Kudus Bisa Tanam Padi Tiga Kali Setahun

-Advertisement-

Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Banget, Tholikan (45) menyampaikan, tantangan terbesar petani di desanya yakni hama tikus. Menurutnya, hal itu sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir.

“Sudah dua tahun terakhir kami harus berjibaku menangani hama tikus. Berbagai cara kami lakukan, di antaranya memberikan racun tikus dan penanggulangan dengan setrum listrik,” ujar Tholikan.

Dia menuturkan, setrum listrik terpaksa dipilih warga untuk mengatasi hama tikus karena cukup efektif. Biasanya, setrum listrik dinyalakan pada malam hari dan ketika fajar setrumnya dimatikan.

“Karena hama tikus itu, kami tidak tidur semalaman untuk jaga di sawah. Sebab khawatir ada orang yang tiba-tiba masuk sawah kami dan kesetrum,” bebernya.

Dia mengungkapkan, sejak ada hama tikus para petani memang harus kerja lebih keras agar tetap bisa memanen padi dengan hasil cukup maksimal. Jika tidak, dipastikan hasil panen akan berkurang drastis.

“Sebelum ada hama tikus, sawah satu hektare di Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu itu biasanya bisa menghasilkan antara tujuh sampai delapan ton. Sejak ada hama tikus hasilnya berkurang,” ungkapnya.

Menurutnya, paling parah hasil panen terjadi di MT 1 tahun ini, yang mana hasil panen ada yang merosot tajam. Bahkan, satu hektare sawah itu ada yang hanya menghasilkan tiga sampai dua ton gabah saja.

“Di MT 2 mulai ada perbaikan. Hasil panen bisa berkisar antara 5,5 ton sampai enam ton per hektarenya. Cukup bagus, meski belum sesuai hasil panen maksimalnya,” tutur Tholani.

Baca Juga: Kasus Dugaan Kekerasan Mts di Kudus Berakhir Damai

Meski hasil panen turun drastis dua dua musim tanam terakhir, ungkap Tholani, para petani Desa Banget tetap bisa tersenyum. Hal tersebut dikarenakan ada kebijakan dari Presiden Prabowo Subianto agar Badan Urusan Logistik (Bulog) menyerap gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram.

“Berkat program tersebut, harga gabah panen kering bisa stabil. Bahkan di MT 2 kemarin harga gabah panen bisa mencapai Rp 6.9 ribu sampai Rp 7,2 ribu per kilogram. Harga tersebut tentu menguntungkan petani. Kalau harga stabil bagus, petani bisa fokus ke perawatan tanaman dan penanggulangan hama, tanpa perlu takut harga anjlok saat panen raya,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER