BETANEWS.ID, PATI – Saat hama tikus menyerang sawah dan mengancam hasil panen, para petani di Desa Wuwur, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, tak tinggal diam. Mereka punya cara unik dan tradisional yang sudah diwariskan secara turun-temurun yakni, krompyongan.
Metode ini terbilang sederhana, tapi terbukti efektif. Petani menggunakan jaring dan rangkaian kaleng untuk mengusir dan menangkap tikus-tikus sawah yang kerap merusak tanaman padi. Suara nyaring dari kaleng yang diseret dan teriakan petani membuat tikus panik dan akhirnya terperangkap di jaring yang telah dipasang mengelilingi sawah.
Baca Juga: Tak Mau Aksi Premanisme Terulang, PCNU Pati Turun Gunung Bela Petani Pundenrejo
“Biasanya krompyongan dilakukan kalau serangan tikus sudah parah. Kami gotong royong bareng petani lain,” ujar Nur Kholis, salah satu petani setempat.
Langkah awal krompyongan adalah memasang jaring di sepanjang tepi sawah. Setelah itu, kaleng-kaleng bekas dirangkai menjadi satu dan dibawa berkeliling sawah sambil diguncangkan agar menimbulkan suara keras. Selain itu, para petani juga berteriak untuk mengarahkan tikus masuk ke dalam jaring.
Tak butuh waktu lama, ratusan tikus pun berhasil ditangkap dan dikumpulkan. Petani mengaku, metode ini lebih ramah lingkungan dan aman dibandingkan dengan penggunaan setrum listrik atau racun tikus.
Krompyongan katanya bukan sekadar tradisi, tetapi juga wujud kearifan lokal dalam menghadapi persoalan pertanian dengan cara yang sederhana namun efektif.
Baca Juga: Dishub Pati Sambut Wacana BRT Trans Jateng Masuk Wilayahnya, Tapi Tunggu Lampu Hijau Pemprov
“Ya alhamdulillah, cara ini efektif. Banyak yang kena. Karena ini kan pakai jaring, jadi mereka banyak yang tertangkap, nggak bisa lari tikusnya,” ungkapnya.
Ia pun menyebut, Krompyongan ini berbeda dengan geropyokan. Kalau geropyokan metodenya dengan menangkap tikus dari persembunyiannya di dalam lubang. Namun, krompyongan dengan menebar jaring di lahan.
Editor: Haikal Rosyada

