BETANEWS.ID, JEPARA – Orang tua bayi berusia 2,5 bulan di Desa Wanusobo RT 5 RW 1, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yang diduga meninggal setelah mendapatkan suntik imunisasi mengaku sempat kecewa pada salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara.
Kekecewaan tersebut terjadi pada saat Mauliddiva Muhammad Kenang Kana (26) dan keluarganya datang ke rumah Imam Subchi, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara. Komisi C merupakan alat kelengkapan dewan yang salah satunya tugasnya melakukan pengawasan di bidang kesehatan.
Baca Juga: Ngadu ke DPRD Jepara, Orang Tua Bayi yang Diduga Meninggal Setelah Imunisasi Mengaku Kecewa
Selain itu, Imam Subchi juga merupakan warga Kecamatan Kedung. Sehingga Diva dan keluarganya merasa dekat untuk mengadu kepada wakil rakyat.
Diva dan keluarganya mengaku kecewa atas pernyataan Imam Subchi yang membuat kesimpulan bahwa 60 persen penyebab kematian putri Diva karena kesalahan orang tua. Sedangkan 40 persen karena kesalahan bidan.
Saat dikonfirmasi, Imam Subchi membenarkan bahwa ia memang membuat kesimpulan tersebut. Ia menjelaskan kesimpulan tersebut ia sampaikan setelah mendengar informasi yang disampaikan dari kedua belah pihak. Yaitu orang tua bayi dan bidan Posyandu Melati Desa Wanusobo yang memberikan suntik imunisasi.
“Iya, orang tuanya memang sudah datang ke tempat saya dua kali. Tapi informasi yang disampaikan orang tua tidak match dengan yang disampaikan oleh bidan,” katanya saat dihubungi Betanews.id melalui sambungan telepon, Kamis (10/7/2025).
Terdapat dua poin yang menurutnya tidak sesuai. Pertama, ia mengatakan saat datang pertama kali ke rumahnya pada Selasa, (1/7/2025) Diva, ayah bayi yang saat itu datang bersama bapaknya mengatakan bahwa saat putrinya mengalami demam, ia sudah menghubungi pihak bidan dan diminta untuk memberikan obat paracetamol.
Namun, saat Imam melakukan konfirmasi ke bidan posyandu, bidan tersebut mengatakan bahwa ia tidak dihubungi oleh orang tua bayi. Selanjutnya Imam mengkonfirmasi hal tersebut pada orang tua bayi saat datang ke dua kali ke rumahnya pada Jumat, (4/7/2025).
“Ternyata yang dihubungi bukan bidan yang melakukan imunisasi. Ini kan ngga bener, artinya kita sebagai orang tua saat anak sakit, kita kan harus ada i’tikad untuk menghubungi bidan terkait, ternyata yang dihubungi bidan temennya,” ungkapnya.
Kedua, Imam menilai dalam kejadian yang menimpa putri Diva, orang tua bayi menurutnya juga kurang memiliki kepedulian terhadap kondisi anaknya.
Sebab, Diva dan istrinya baru membawa putri mereka berobat ke dokter pada hari ke-15 setelah imunisasi. Selama 15 hari sebelumnya, Imam menyampaikan bahwa Diva dan istrinya tidak memeriksakan putri mereka ke dokter.
Sedangkan tiga hari paska imunisasi, bayi tersebut sempat mengalami demam dan muntah ketika diberikan asi. Sehingga ia berkesimpulan bahwa penyebab meninggalnya bayi tersebut tidak hanya dari faktor imunisasi.
“Kalau kemudian kok dalam waktu 1 x 3 dalam 24 jam itu meninggal, itu baru faktor imunisasi. Sehingga saya sampaikan bahwa itu faktornya banyak, saya sampaikan seperti itu ke orang tua bayi,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Imam saat Diva dan istrinya datang ke rumahnya yang kedua kali. Saat itu, Imam bercerita Diva juga menanyakan terkait prosedur pemberian vaksin.
Baca Juga: Kronologi Lengkap Bayi Usia 2,5 Bulan di Jepara Diduga Meninggal Setelah Imunisasi
Merasa lelah sudah menjelaskan selama kurang lebih 45 menit bahwa penyebab anak mereka meninggal tidak hanya dari faktor imunisasi, Imam mengaku ia kemudian memang mengatakan bahwa penyebab bayi tersebut meninggal dikarenakan kesalahan orang tua.
“Saat saya jelaskan orang tuanya ini masih belum mau menerima, akhirnya terakhir itu saya memang bilang bahwa kalau boleh fair-fairan ini yang salah orang tua, itu terakhir saya ngomong setelah saya jelaskan kurang lebih 45 menit,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

