Geger Ranggalawe Menggema Lewat Aksi Spektakuler Marching Band Bahana Swara di Kajen

BETANEWS.ID, PATI – Kirab 10 Muharram di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, tahun ini tampil beda. Dari deretan penampil yang memukau, satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Marching Band Bahana Swara (MBBS) dari MA Salafiyah Kajen. Dengan mengangkat tema “Geger Ranggalawe”, mereka tak hanya menyuguhkan musik dan atraksi, tetapi juga menyuarakan pesan mendalam dari sejarah Jawa Kuno yang heroik.

Tema yang diangkat tak sembarangan. Geger Ranggalawe adalah kisah penuh keberanian dan pengkhianatan dari tokoh Ranggalawe dalam Babad Majapahit. MBBS memadukan semangat itu dengan kreativitas modern dalam satu pertunjukan kolosal yang menyentuh sisi emosional penonton.

Baca Juga: Gandrung Sastra Sukses Pentaskan Monolog ‘Jabrik’ di Rejosari Kudus

-Advertisement-

Kostum yang megah, iringan musik yang menghentak, serta koreografi yang menggambarkan konflik batin sang tokoh, semuanya dirancang secara detail. Setiap gerakan seakan menghidupkan kembali babad kuno yang sarat nilai perjuangan dan pengabdian.

Moh Choirul Abror, pembina MBBS MA Salafiyah Kajen, menyebut, dalam pertunjukan ini pihaknya mengusung tema “Geger Ranggalawe: Sumbaga Anjayeng Prang” yang diambil dari nukilan Babad Majapahit.

“Sumbaga Anjayeng Prang” merupakan kalimat yang mencerminkan semangat perjuangan yang gagah berani, pengabdian yang tulus, kesaktian yang tak tertandingi, dan selalu memenangkan peperangan. Hal itu melekat dalam diri Ranggalawe,” jelasnya.

Meski akhir kisah Ranggalawe ditutup dengan duka akibat fitnah dan pengkhianatan, nilai-nilai ksatria dalam dirinya tetap abadi.

“Meskipun di akhir cerita Ranggalawe dapat dikalahkan karena fitnah dan pengkhianatan, ia tetap dikenang sebagai pribadi yang “Sumbaga Hanjayeng Prang”. Yakni memperjuangkan keadilan demi tegaknya sebuah negara atau kerajaan. Ia teguh dalam darma baktinya sebagai seorang ksatria yang pilih tanding dan tulus mengabdi untuk bangsa dan negara,” sambung Abror.

Tak sekadar membawakan kisah sejarah, MBBS juga mencoba menyatukan nilai-nilai tersebut dengan semangat religius peringatan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin.

“Kami juga melihat ada kaitan geografis antara Tuban tempat Ranggalawe berkuasa dan tempat asal Syekh Ahmad Mutamakkin. Hal itu menciptakan kesinambungan geografis dan keteladanan masa lalu yang kuat antara sejarah lokal, sastra Jawa Kuno, dan spirit lokal,” imbuhnya.

Bukan sembarang marching band, MBBS MA Salafiyah Kajen memang dikenal sebagai salah satu ikon pertunjukan dalam tiap peringatan 10 Muharram di Kajen. Didirikan sejak tahun 1965, tim ini telah mencetak banyak prestasi membanggakan di level daerah hingga nasional.

Di antaranya, MBBS meraih juara pertama mayoret dalam kejuaraan Lenggang Semarang 2008. Pada tahun 2015, mereka menyabet empat kategori juara di ajang nasional Hamengku Buwono Cup di Yogyakarta, serta menerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam dari Kemenag RI.

Baca Juga: Festival Lamporan Desa Soneyan Kenalkan Kesenian dan Budaya Warisan Leluhur

Tahun berikutnya, giliran kompetisi internasional Jember Open Marching Competition (JOMC) 2016 yang menobatkan mereka sebagai juara. Tak ketinggalan, pada 2017 mereka juga berhasil membawa pulang juara pertama kategori Solo Snare Drum dalam ajang Bupati Pati Cup.

Dengan semangat perjuangan ala Ranggalawe dan iringan ritmis penuh kekuatan, MBBS kembali membuktikan bahwa marching band bukan sekadar hiburan, melainkan juga wadah menyuarakan nilai budaya, sejarah, dan keteladanan yang relevan hingga hari ini.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER