BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta pemerintah pusat benar-benar memperhatikan nasib para perantau yang tidak boleh mudik. Menurutnya, banyak warga Jateng di Jabodetabek yang mengeluh belum terdata dan belum mendapatkan bantuan. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI, Jawa Barat, dan Banten terkait permasalahan itu.
“Penghubung kami di Jakarta dan para pengurus paguyuban juga sudah kami minta membantu melakukan pendataan. Kita tidak boleh melempar ini hanya urusan DKI atau Jabodetabek saja, ini urusan Indonesia,” tegasnya, Rabu (22/4/2020).
Menurut Ganjar, mereka sudah memutuskan untuk tidak pulang, tapi nasibnya tidak menentu. Makanya, apabila memang dibutuhkan gotong royong dari berbagai daerah, Jawa Tengah siap membantu.
“Ayo rapat soal gotong royong itu dan kita eksekusi bersama. Yang utama itu diberikan insentif dan dijamin hidupnya. Maka sekarang saya dorong terus, ayo didata mereka-mereka yang tidak mudik. Jangan lihat KTPnya mana, agamanya apa, sukunya apa. Semua harus dibantu dan dijamin,” ucapnya.
Baca juga: Ganjar : Saya Titip Nasib Karyawan, Tolong Jangan Ada PHK
Larangan mudik, lanjut Ganjar, membuat sebagian orang memandang negatif perantau. Padahal bagi Ganjar, mereka adalah pahlawan kemanusiaan karena telah mengorbankan dirinya untuk tidak mudik.
“Mereka adalah pahlawan bagi saya. Bagaimana tidak, rasa rindu dikubur dalam-dalam, rasa lapar ditahan dan rekosone diempet (sakitnya ditahan). Ini pengorbanan luar biasa, jadi jangan anggap mereka penjahat yang harus ditangkap,” pintanya.
Baca juga: Soal Larangan Mudik oleh Presiden Jokowi, Ini Sikap Ganjar
Makanya, Gubernur Jawa Tengah dua periode itu mendorong agar penanganan kebijakan tersebut dilakukan dengan narasi positif.
“Sekarang narasinya harus diubah, jangan anggap pemudik itu penjahat. Jangan kita (setelah ada kebijakan larangan mudik) seperti ngejar-ngejar buronan. Yang harus dilakukan setelah Presiden melarang mudik itu adalah mengedukasi mereka, caranya adalah kasih insentif agar mereka aman,” tutup Ganjar.
Editor: Ahmad Muhlisin

