31 C
Kudus
Kamis, Februari 19, 2026

Ada Kampung Sentra Sangkar Burung di Lomba Desa Kabupaten Kudus 

BETANEWS.ID, KUDUS – Desa Megawon, Kecamatan Jati, menjadi salah satu peserta dalam lomba desa tingkat Kabupaten Kudus tahun ini. Saat ini, proses lomba telah memasuki tahap penilaian, dan pemerintah desa memanfaatkan momentum ini untuk menampilkan berbagai potensi unggulan yang dimiliki.

Kepala Desa Megawon, Nurasag, menyampaikan bahwa desanya memiliki kekayaan potensi di berbagai bidang yang terus dikembangkan, mulai dari UMKM, bidang olahraga, hingga budaya lokal. 

Baca Juga: JHK-IPHI Akan Gelar Pendalaman Manasik Haji untuk Calhaj Kudus, Catat Tanggalnya

-Advertisement-

“Kami berusaha menunjukkan potensi terbaik desa kami dalam lomba ini. Mulai dari sektor olahraga, UMKM, hingga kelembagaan masyarakat, semuanya aktif dan berjalan,” jelasnya.

Salah satu andalan Desa Megawon adalah produk sangkar burung yang telah menjadi produk unggulan. Di mana produk tersebut sudah ada di wilayahnya sejak tahun 1959 di Dukuh Wungu RW 1. Saat ini produk sangkar burung mulai tersebar di Dukuh Krajan dan Grogol.

“Satu kampung itu mayoritas membuat sangkar burung. Harganya mulai Rp15 ribu hingga jutaan rupiah. Produk kami bahkan sudah dipasarkan ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, dan Kalimantan,” ujarnya.

Pemerintah desa juga tengah merancang pembangunan sentra produksi untuk memusatkan kegiatan pembuatan sangkar agar lebih tertata dan minim polusi debu. 

“Kami berani menjual produk belum finishing karena bahan baku kami berkualitas dan banyak, dari bambu dan kayu jati,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pemasaran, Megawon rutin mengadakan kegiatan gantangan burung tiga hingga empat kali setiap minggu. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang promosi langsung produk sangkar karya warga setempat.

Di bidang kuliner, Megawon juga memiliki makanan khas getuk gulung yang mulai dikenal masyarakat, meski saat ini masih diproduksi berdasarkan pesanan.

Tak kalah menarik, Megawon juga mempunyai kebudayaan seni tari bernama Bun Ya Ho, yang berarti mari berbuat kebajikan. Tarian itu merupakan peninggalan dari ulama penyebar Islam asal Brebes, Abdul Jalil. 

“Tari ini mengandung makna ajakan berbuat kebajikan. Sejak 2013 kami hidupkan kembali dan kita tampilkan setiap Sedekah Bumi. Kini menjadi ikon budaya desa,” terangnya.

Dari sisi pembinaan generasi muda, Megawon juga menyediakan berbagai fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola, voli, badminton, dan lain sebagainya. 

“Ini merupakan bagian dari upaya kami membina anak muda dan menekan kenakalan remaja,” ujarnya.

Baca Juga: Ada Indikasi Lembaga Fiktif Penerima Program HKGS, Setda Kudus Bakal Verifikasi Ulang

Kepala Dinas PMD, Famny Dwi Arfana menambahkan, ada enam desa yang mengikuti penilaian lomba desa, yaitu, Desa Megawon, Gondangmanis, Honggosoco, Sidorekso, Soco, dan Ngemplak. Sementara tiga kelurahan adalah Melatinorowito, Wergu Kulon, dan Kerjasan.

“Jadi aspek penilaian lomba desa ini meliputi bidang pemerintahan, kewilayahan, kemasyarakatan, inovasi desa dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER