Cerita Guru Honorer Pati Tekuni Kerajinan Batik, Bermula dari Bikin Seragam Sekolah

BETANEWS.ID, PATI – Dalam sebuah rumah yang berbentuk lawasan terdapat tumpukan kain batik yang siap untuk dipasarkan. Ada beragam motif khas Pati dengan harga yang bervariasi pula.

Sebuah rumah yang beralamat di Kelurahan Kalidoro, RT 4, RW 1, Kecamatan/ Kabupaten Pati ini, juga dijadikan sebagai galeri dari Batik Asmaradana. Batik khas Pati ini, dikelola oleh seorang guru honorer bernama Devi Rukmana (33).

Baca Juga: Pelajar SMA PGRI 2 Kayen Sabet Prestasi pada Olimpiade Matematika di Thailand

-Advertisement-

Devi, merupakan sosok guru honorer yang sehari-hari mengajar di SDN Poncomulyo, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Pati.

Di tengah kesibukannya, sebagai guru di sekolah yang berjarak sekira 40 menit bersepeda motor dari rumahnya, Devi berupaya menyempatkan diri terus berkreasi di dunia batik.

Dirinya menceritakan, ia mulai menekuni aktivitas ini sejak mengikuti kursus membatik di Balai Latihan Kerja (BLK) Pati pada 2017.

Berbekal itu, ia kemudian mencoba mempraktikkan keterampilannya itu. Pada 2021, ia membuat seragam kantor sekolahnya sebanyak 20 buah.

“Batik itu kemudian dipakai, sambil dipromosikan ketika ada pertemuan-pertemuan. Dan ternyata kok responnya bagus. Kalau batik ini beda dengan yang lain,” ujar Devi.

Dirinya pada 2021 kemudian memberanikan diri untuk menekuni kerajinan lebih serius. Ia juga mulai berani mengambil pesanan-pesanan batik, baik dari komunitas maupun lainnya.

“Awal-awal saya buat sendiri. Tapi kini sudah ada tiga orang yang membantu untuk membatik, ” ungkapnya.

Ia pun mengaku sudah punya sekitar 20 mitra kerja, baik di Pati maupun Juwana. Dalam sebulan, ia menyebut sudah bisa menyelesaikan pesanan batik sekitar 100 buah.

Sedangkan untuk penjualan, menurutnya paling banyak melalui online. Ketika ada pesanan  banyak, ia pun bekerja sama dengan mitra yang sudah dibangun selama ini.

Pada 2025, ia juga menciptakan motif batik khas Keluarahan Kalidoro.

“Saya menciptakan motif baru yang menceritakan tentang Kelurahan Kalidoro. Bercerita tentang desa yang di dalamnya ada sungai jernih, banyak bebatuan, dan banyak burung dara,” ujarnya sembari menunjukkan selembar kain batik berwarna hitam yang menampilkan motif tersebut.

Devi juga menunjukkan motif bergambar Jembatan Kalidoro berwarna merah yang menggambarkan kondisi jembatan dengan konstruksi modern saat ini.

“Ini Jembatan Kalidoro yang saat ini, konstruksi modern. Kalau dulu katanya dari kayu. Ada motif aliran sungai juga,” ungkapnya.

Unsur-unsur yang dimasukkan Devi dalam motif batik ini adalah ikon-ikon khas Kelurahan Kalidoro yang menjadi cerita tutur turun-temurun. Terutama sungai dan burung dara.

Selain itu, ada pula gambar kuluk kanigoro dan keris rambut pinutung yang merupakan pusaka ikon Kabupaten Pati.

Baca Juga: Diiming-imingi Bekerja di PDAM Pati, Korban Tertipu Rp 100 Juta

“Motif ini saya buat Januari 2025. Ini ide saya, tapi pembuatannya saya bekerja sama dengan pembatik di Solo. Saya baru buat dua, warna hitam dan gold. Saya jual Rp250 ribu,” imbuhnya.

Devi menambahkan, dirinya berencana membuat produk pakai dengan motif ini, antara lain sarung. Untuk pengaplikasiannya tinggal menyesuaikan ukuran motifnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER