BETANEWS.ID, KUDUS – Di depan Tugu Wergu Wetan, di antara lalu lintas kendaraan yang ramai, sebuah gerobak sederhana menawarkan sari kedelai yang segar. Seorang perempuan mengenakan kerudung biru dongker tampak cekatan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Dia adalah Sri Rusmini (43), penjual sari kedelai yang telah berjualan sejak 2018.
Setiap hari Selasa hingga Minggu, Rusmini sudah mulai bekerja sejak pukul 01.00 hingga 04.00 WIB, membantu iparnya meracik sari kedelai. Ia kemudian berjualan mulai pukul 05.00 hingga 11.00 WIB, melayani berbagai pelanggan, mulai dari pegawai, bapak-bapak, hingga masyarakat sekitar.
“Pakai bahan alami, kedelai, gula, dan air. Pembuatannya juga sederhana, hanya pakai blender, disaring, lalu direbus,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Gladysa Cake, Toko Jajan yang Bekerja Sama dengan 75 UMKM di Kudus
Sari kedelai buatannya dijual dengan harga Rp6.000 per bungkus, sehingga terjangkau bagi semua kalangan. Rusmini mengaku, jumlah penjualan setiap harinya tidak menentu, tetapi biasanya dagangannya selalu habis.
“Kadang ramai, kadang sepi. Tapi lebih sering pembeli banyak, jadi tetap habis,” ujarnya.
Awalnya, resep susu kedelai ini diperoleh dari seorang teman suami iparnya. Resep itu dibeli, karena pemiliknya sudah tua dan tidak lagi berjualan. Sejak saat itu, sari kedelai Rusmini mulai dikenal, bahkan berkembang dengan varian rasa baru seperti stroberi dan cokelat untuk memenuhi selera pelanggan.
Bahan baku kedelai diperoleh dari koperasi setempat dengan jumlah 25 kilogram per karung. Jika permintaan meningkat, Rusmini akan menyesuaikan produksi. Sari kedelai buatan Rusmini hanya bertahan satu hari di suhu ruang atau dua hari jika disimpan di lemari pendingin.
Baca juga: Dari Hobi Nonton Tutorial Masak, Sofiatin Temukan Bisnis Molen yang Menjanjikan
Menariknya, usaha sederhana ini telah berkembang dengan membuka dua cabang baru di Desa Jepang dan Pasar Kliwon. Namun, Rusmini tetap setia berjualan di lokasi awalnya di depan Tugu Wergu Wetan.
“Biasanya hari Minggu adalah hari paling sibuk, karena permintaannya melonjak drastis,” bebernya.
Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

