BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, di samping perempatan Pasar Jetak Lama, tepatnya di Jalan Raya Jetak, Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, antrean pelanggan tampak mengular di sebuah kedai gorengan. Pak To 29, begitu nama kedai tersebut, terkenal dengan gorengan khasnya yang disajikan dengan saus kacang dan saus sate yang unik.
Di balik kesibukan melayani pelanggan, Narto (58), pemilik kedai yang akrab disapa Pak To, tampak cekatan melayani pembeli. Dengan terampil, ia mencelupkan adonan gorengan ke dalam telur yang sudah diberi bumbu, lalu menggorengnya hingga matang. Aroma sedap pun menyeruak, menggoda orang-orang yang melintas.
Warga asli Gadong, RT 01 RW 05, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu memulai usaha gorengannya sejak tahun 1990-an. Ia mengaku bahwa awalnya hanya iseng untuk mengisi waktu luang. Namun, siapa sangka, dari sekadar iseng, kini ia telah memiliki empat cabang di Kudus dan mempekerjakan banyak karyawan selama lebih dari 15 tahun terakhir.
Baca juga: Tak Sia-Sia Datang dari Lumajang, Terang Bulan Ali Laris Manis di Kudus
“Tadinya hanya iseng, tapi ternyata hasilnya menjanjikan, jadi berlanjut sampai sekarang. Sudah sekitar 30 tahun jualan gorengan. Selain itu, saya juga punya usaha sampingan ternak kambing,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Pak To, yang membuat gorengannya begitu digemari adalah variasinya yang beragam serta teksturnya yang kenyal. Ada 29 macam gorengan yang dijual, seperti tahu mercon, sempolan, cetot goreng, gelondong isi telur, dan aneka sosis lainnya.
Sekitar 70 persen gorengannya dibuat sendiri, menggunakan bahan pilihan. Namun, yang paling menarik perhatian pelanggan adalah sausnya yang khas.
“Pelanggan paling suka sausnya karena ada potongan bawang merah, kacang, cabai, dan bumbu rahasia,” ungkapnya saat ditemui bebeapa waktu lalu.
Baca juga: Belajar dari YouTube, Ririn Kini Punya Bisnis Roti yang Menjanjikan di Pawonbae Homemade
Setiap hari, Pak To mulai berjualan pukul 14.30 WIB hingga habis terjual. Harga gorengan yang ia tawarkan sangat terjangkau, yakni Rp 5.000 sudah mendapat delapan macam gorengan.
Dengan harga yang ramah di kantong, tak heran jika dalam sehari, ia bisa menghabiskan 5 hingga 6 kilogram adonan dan menjual hingga 2.000 gorengan. Dari penjualan tersebut, Pak To mampu meraup omzet hingga Rp1 juta per hari.
“Pelanggan biasanya meningkat pada hari Jumat dan Sabtu. Tapi kalau hari Kamis, kami libur,” tambahnya.
Penulis: Fiska Aditia, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

