80 Persen Petani Undaan Tanam Ketan, Ini Alasannya 

BETANEWS.ID, KUDUS – Mayoritas petani di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kini lebih memilih menanam padi varietas ketan dibandingkan padi biasa. Alasannya sederhana, hasil panen dan selisih keuntungannya jauh lebih menggiurkan.

Musim tanam pertama (MT1) di Undaan dimulai pada Oktober dan panen raya berlangsung Februari hingga Maret. Sementara musim tanam kedua (MT2) dimulai April dan panen pada Juni hingga Juli. Luas lahan di Undaan Tengah mencapai 534 hektare, sedangkan Undaan Lor sekitar 460 hektare.

Baca Juga: PPO PT Djarum Mampu Olah 50 Ton Sampah Organik Sehari

-Advertisement-

Menurut Darwoto, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Undaan Tengah, tren menanam ketan secara masif di wilayahnya sudah berlangsung sejak 2017. Hal itu dipicu harga yang lebih tinggi ketan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Waktu itu harga ketan mencapai Rp10.000 per kilogram Gabah Kering Panen (GKP), sedangkan padi hanya Rp6.100. Selisih harga dan produksi inilah yang membuat petani tertarik,” ungkapnya, Selasa (26/2/2025).

Ia menjelaskan bahwa rata-rata produksi ketan mencapai 8 ton per hektare, bahkan ada yang mencapai 9,5 ton. Sementara untuk produksi padi biasa hanya mencapai maksimal hanya 7 ton dengan luasan lahan per satu hektare.

“Kalau dihitung dengan harga ketan Rp9.000 per kilogram dan produksi minimal 8 ton, petani bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp72 juta per hektare, sedangkan padi sekitar Rp51 juta sesuai pengalaman tahun lalu,” jelasnya.

Namun, menanam ketan bukan tanpa tantangan. Biaya operasional (cost) per hektare mencapai Rp8 juta, terutama untuk perawatan intensif yang membutuhkan penyemprotan rutin hingga dua kali seminggu. 

“Perawatan ketan memang lebih mahal, tapi hasilnya juga sebanding,” kata Darwoto.

Meski begitu, ia berharap kedepannya petani tetap mempertimbangkan menanam padi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. 

“Saat ini sekitar 80 persen petani di Undaan menanam ketan. Karena, padi tetap penting untuk kebutuhan pangan. Apalagi harga padi saat ini lebih tinggi dibandingkan ketan,” ujarnya.

Baca Juga: Kudus ASIK, Inisiasi Djarum Foundation Wujudkan Kudus Apik dan Resik 

Untuk panen tahun ini, harga ketan berkisar antara Rp6.000 hingga Rp6.400 per kilogram, sedangkan padi mencapai Rp6.700. Meski harga padi sedikit naik, hasil produksi yang lebih rendah dibanding ketan membuat petani tetap menjadikan ketan sebagai pilihan utama.

“Dengan keuntungan yang jelas lebih besar, wajar kalau petani beralih ke ketan. Tapi tetap ada yang menanam padi, meskipun jumlahnya lebih sedikit,” tuturnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER