Diguyur Hujan Seharian, Ribuan Warga Desa Tanjungkarang Kudus Terdampak Banjir

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan deras disertai angin kencang sejak kemarin siang menyebabkan banjir di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sedikitnya 2.300an kepala keluarga (KK) terdampak akibat genangan air yang melanda permukiman dan akses jalan.

Salah satu warga, Solikhin merasakan langsung dampak banjir yang terjadi di sana. Bahkan genangan air sampai masuk ke dalam rumahnya sejak Kamis (6/2/2025) sore.

Baca Juga: Jalan Tanjungkarang Kudus Tergenang hingga 50 Cm, Puluhan Kendaraan Mogok 

-Advertisement-

“Air mulai masuk rumah sejak pukul 17.00 WIB. Tadi malam ketinggian air di dalam rumah mencapai 25 centimeter, sementara di luar rumah (akses jalan) sampai 70 centimeter,” ungkapnya. 

Menurutnya, hujan deras yang tidak berhenti sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB menyebabkan air terus naik. Saat ini pihaknya membersihkan rumahnya dari genangan air yang berada di dalam rumah. Mengingat air tak bisa mengalir secara langsung karena ada tundakan atau tangga di rumah.

“Jadi saat ini saya tawu (keluarkan) airnya yang ada di dalam rumah. Air yang masuk rumah ini karena rembesan air, soalnya air di samping-samping itu tinggi sehingga masuk ke dalam rumah,” tuturnya.

Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, menjelaskan penyebab utama banjir itu adalah aliran air yang terhambat menuju Sungai Wulan. Ia menduga, saluran yang ada di jalan jalan Nasional atau lebih tepatnya di sekitar Proliman Tanjungkarang itu banyak sampah menyumbat aliran air.

“Akibat banjir karena curah hujan lebat disertai angin itu, hampir sebagian warga terdampak. Di sini total ada 7 RW dan 31 RT, yang tidak terdampak hanya di RT 2 RW 2. Selain itu semua warga terdampak,” jelasnya.

Sumarno menduga, hambatan di gorong-gorong tersebut disebabkan oleh sisa-sisa bambu yang masih ada sejak pembangunan jalan Proliman lebih dari 10 tahun lalu. 

“Bambu-bambu itu belum dibuang, akhirnya menyangkut sampah-sampah yang menghambat aliran air menuju Sungai Kencing,” tambahnya.

Meski begitu, Sumarno mengakui bahwa dampak banjir kali ini lebih ringan dibanding tahun-tahun sebelumnya berkat normalisasi Sungai Kencing yang mengarah ke kolam retensi. 

“Sebelumnya, air bisa menggenang hingga seminggu, tapi sekarang tidak sampai dua hari sudah mulai surut. Bahkan warga tidak perlu mengungsi seperti biasanya,” katanya.

Ia menuturkan, ketinggian air di permukiman mulai berkurang, sementara di jalan utama masih mencapai 30-40 centimeter. Beberapa gang ditutup untuk menghindari kendaraan masuk ke dalam kampung. Apabila tidak ada hujan susulan, Sumarno memperkirakan banjir akan surut sepenuhnya pada sore hari.

Baca Juga: Banjir Lumpuhkan Jalan Alternatif Kudus-Pati, Beberapa Truk Mogok

Sebagai langkah penanganan jangka panjang, pihak desa telah mengusulkan normalisasi gorong-gorong di sekitar Proliman dan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memperbaiki saluran air. 

“Jika ini diperbaiki, insyaallah genangan air tidak akan bertahan lama lagi. Karena salurannya lancar tanpa hambatan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER