BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah petani di Dukuh Karangturi Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu merugi akibat tanaman padi yang hampir panen dibabat tikus.
Sumaji, petani Dukuh Karangturi RT 2 RW 3, Desa Setrokalangan, mengatakan, tanaman padi yang digarap ludes dimakan hama tikus secara tiba-tiba.
Baca Juga: Dalami Tugas Fungsi dan Kewajiban, Anggota DPRD Kabupaten Kudus Ikuti Orientasi di Surakarta
“Terkena hama tikus itu secara tiba-tiba, tidak bisa disangka. Sempat saya atasi dengan obat tikus tapi tidak mampu, dua malam terus ludes padi dipotongi tikus semua,” bebernya saat ditemui di lokasi sawah, Kamis (10/10/2024).
Kejadian itu, katanya, sudah terjadi empat hari yang lalu. Menurutnya, usia padi saat diserang hama tikus sekitar 60 hari. Di usia tersebut sebentar lagi akan memasuki masa panen. Karena padi tak bisa diharapkan hasilnya, Sumaji lalu memotong jerami yang tersisa diberikan untuk pakan ternaknya.
“Saya babat habis untuk makan kerbau, difungsikan untuk pakam kerbau karena tidak bisa dipanen. Kalau tidak dikasihkan ke kerbau kan sia-sia,” jelasnya.
Ia menuturkan, hampir semua petani di desanya terkena dampak hama tikus yang terjadi di sana. Beberapa petani lain menggunakan alat setrum genset di masing-masing sawahnya, untuk mengantisipasi agar tanaman tidak dimakan tikus.
“Hampir semua petani ini terkena dampak hama tikus ini. Ada yang pakai alat setrum dengan genset, karena saya tidak punya jadi tidak pakai itu. Untuk alatnya juga mahal, uangnya pun sudah habis untuk perawatan tanam ini. Setiap hari kan pompa air untuk irigasi persawahan dan setiap hari harus beli bensin,” ujarnya.
Ia mengaku, dengan adanya hama tikus di sana, Sumaji mengalami kerugian mencapai Rp10 juta dengan luasan sawah sekitar 2.400 meter persegi. Meski begitu, dia pasrah. Sebab, hal itu merupakan gejala alam, yang tak bisa ditanggulangi.
“Saya menyadari kalau ini karena alam. Kalau alam kan kita tidak bisa menyalahkan. Kita juga tidak tahu bagaimana kedepannya, ada seperti ini, kita kan gak tahu. Jadi ya saya relakan,” ujarnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Mahrom. Petani Desa Setrokalangan itu mengantisipasi maraknya hama tikus dengan setrum.
“Kalau tidak disetrum maka habislah tanaman padi di sini. Setiap malam ada banyak tikus. Kemarin saja mendapat 200-300 tikus, semakin disetrum kan semakin berkurang.
Ia menuturkan, sebelum dipasangnya alat setrum, tanaman padinya hancur separuh dari total luasan satu hektar miliknya. Sehingga, dia menggunakan setrum untuk mengantisipasi tikus merusak tanaman padi yang mau panen.
“Wah merajalela tikusnya, separuh tanaman habis dimakan tikus. Biaya untuk pemasangan ini, total sekitar Rp3 juta, beli genset Rp1,5-2 juta dan perawatan Rp1 juta,” jelasnya.
Baca Juga: Kades di Kudus Diduga Perkosa Anaknya Selama 11 Tahun
Tak hanya Kasawan sawah di Setrokalangan, katanya, hama tikus juga berdampak di Desa Blimbing dan Banget. Dia berharap, kalau ada bantuan minimal untuk mengendalikan atau pencegahan hama tikus, seperti genset.
“Baru kali ini. Sepuluh tahun yang lalu ada, tapi lebih parah ini,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

