BETANEWS.ID, PATI – Beragam kesenian tradisional khas Kabupaten Pati bakal tampil dalam kirab budaya, Jumat (9/8/2024) malam. Kirab ini merupakan bagian dari Festival Wangi Pradesa sekaligus puncak peringatan Hari Jadi ke-701 Pati.
21 kecamatan akan mengirimkan perwakilan untuk menyemarakkan karnaval budaya tersebut. Karnaval ini dimulai dari depan Bakorwil Jateng hingga Alun-Alun Pati.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Paryanto, mengatakan, festival ini mengangkat tema jejak rempah di Kabupaten Pati.
Baca juga: Masjid Baiturrahman, Masjid Megah Berarsitektur Gotik Khas Eropa di Soneyan Pati
“Para peserta bakal mengangkat jejak rempah di masing-masing kecamatan. Ada yang mengangkat cerita manten tebu, kupatan Tayu, racik rempah, Juwana Mina Lestari, hingga wedang coro,” ujarnya, Jumat (9/8/2024).
Selain itu, ada juga yang mengangkat komoditi andalan perdagangan di Pati, seperti sego brabuk, budi daya itik, tani brambang, peternak lebah, madhak garam, kembang mayang kelapa kopyor, serta hiruk pikuk pasar hewan Pragolo.
Tak kalah menariknya, tradisi Meron Sukolilo dan Wayang Topeng Soneyan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) juga diperkenalkan melalui karnaval budaya.
Ia berharap, melalui karnaval tersebut, dapat memberikan hiburan sekaligus nilai edukasi terhadap masyarakat Pati.
”Kami ingin menyajikan karnaval ini dengan nilai budaya. Maka dari itu konsep karnaval kami usung sedemikian rupa sehingga juga memberi nilai edukasi, salah satunya melalui pengenalan terhadap potensi objek pemajuan kebudayaan yang terkait jejak jalur rempah di Pati,” ungkapnya.
Baca juga: Gelar Festival Kali Juwana, Jampisawan Bersih-bersih Sungai
”Tema Wangi Pradesa diambil dari bahasa Jawa dan Sansekerta, merujuk pada aroma khas rempah-rempah dan wilayah atau daerah. Sehingga bertujuan merayakan kekayaan budaya dan rempah yang menjadi bagian integral dari identitas Jalur Rempah di Pati,” jelasnya.
Paryanto menyebut, Kabupaten Pati memiliki jejak jalur rempah yang cukup kuat. Tak hanya pada persoalan keberadaan rempah-rempah, melainkan lebih kepada jalur perdagangan dunia di masa lampau.
Menurutnya, perdagangan rempah membentuk jalur perdagangan maritim yang strategis, menghubungkan Timur dan Barat, dan memperkuat hubungan ekonomi serta budaya antarbangsa.
Editor: Ahmad Muhlisin

