Perajin Miniatur Menara Kudus Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin kompresor terdengar di sebuah rumah di Desa Bacin RT 08 RW 03, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang menyemprotkan cat minyak berwarna coklat ke miniatur kayu yang berbentuk Menara Kudus. Dia tak lain adalah Haryanto (46). Usai mengecat, dia bercerita kepada betanews.id tentang usaha yang ditekuninya.

Haryanto sedang mengecat meniatur Menara Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

Haryanto memulai usaha produksi miniatur menara sejak tahun 2012. Sebelumnya dia bekerja sebagai kuli panggul. Awalnya, dia melihat limbah sisa kayu di tempat temannya, kemudian dia mempunyai ide untuk membuat kerajinan dari bahan limbah kayu tersebut.

Sebelum membuat miniatur menara, dia membuat miniatur rumah adat Kudus terlebih dahulu. Karena prosesnya terlalu lama, kemudian Haryanto beralih membuat miniatur menara. Berbeda dengan miniatur menara yang diproduksi setiap hari memenuhi pesanan pelanggan, untuk miniature rumah adat Kudus dirinya hanya membuat ketika ada pesanan saja.

-Advertisement-

Haryanto mengaku kewalahan memenuhi pesanan miniatur menaranya. Dia pernah menggunakan tenaga karyawan, tetapi hasilnya kurang maksimal dan mendapat komplain dari pelanggan. Hingga saat ini, dia belum mencari karyawan lagi.

“Karena saya mengutamankan kualitas, jadi sejak saat itu saya tidak menggunakan tenaga karyawan lagi. Sejauh ini ada tiga orang yang hanya bantu di proses mengamplas saja, itu pun mereka bawa pulang dibuat sampingan. Sebenarnya banyak yang ingin membantu, tapi belum saya terima. Sementara tiga orang dulu yang hasil kerjanya rapi,” terangnya, Rabu (12/2/2020).

Bahan yang digunakan adalah kayu jati dan mahoni, karena menurutnya kayu tersebut lebih kuat dan awet. Untuk pengembangan produknya, saat ini Haryanto mulai membuat miniatur menara dari bahan akrilik yang diberi hiasan lampu. Harganya memang lebih mahal dan belum diproduksi dengan jumlah banyak.

“Untuk ukuran 20 cm harganya Rp 15 ribu, 30 cm Rp 35 ribu, 35 cm Rp 55 ribu, 45 cm Rp 95 ribu, 55 cm dan Rp 120 ribu. Kadang ada juga pesanan ukuran dua meter, harganya sekitar Rp 2 juta. Dari bahan akrilik ukuran 60 cm saya jual Rp 500 ribu dan kalau rumah adat Kudus dari kayu saya jual Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu,” rinci bapak dua anak itu.

Ia juga mengungkapkan, bahwa perajin dari bahan limbah kayu sekarang sudah mulai banyak, jadi sudah tidak cukup jika mengandalkan bahan limbah saja untuk produksinya. “Sekarang sudah berebut limbah kayu, tidak seperti awal-awal dulu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER