BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah mesin pemotong kayu tampak di halaman sebuah rumah, dan seorang pria mengenakan kaus singlet dan masker penutup hidung terlihat sedang menyalakan mesin tersebut. Dia adalah Soleh (46), warga Desa Gulang, RT 06 RW 01, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, seorang perajin tasbih dari limbah kayu. Setelah memotong kayu, dia bercerita kepada betanews.id tentang usaha yang sudah dia jalankan sudah 27 tahun itu atau sejak tahun 1993.

Saat dia masih duduk di bangku kelas VIII sekolah menengah pertama (SMP), dia sudah ikut bekerja perajin kayu di dekat sekolahnya. Berawal dari rasa ingin tahu tentang mesin bubut kayu, kemudian Soleh bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah.
“Saat itu saya bekerja ikut Bapak Fauzan Mukmin. Wakatu itu saya masih SMP, tapi dulu namanya sekolah teknik (ST) sekitar tahun 1989. Berawal dari rasa penasaran dengan mesin bubut kayu, karena di sekolah diajarkan tentang mesin bubut besi tapi tidak diajarkan mesin bubut kayu. Kemudian saya tertarik bekerja sekalian belajar,” ungkap bapak dua anak itu.
Setelah empat tahun bekerja ikut orang, akhirnya dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri. “Saat pertama kali membeli bahan kayu, saya ditanya penjualnya, apa bisa membuat tasbih? Kemudian saya sanggup membuat tasbihnya. Setelah itu disuruh mengantar ke tempat pengepul. Sejak saat itu hingga sekarang saya masih berkelanjutan menerima pesanan dari sana,” jelasnya, Rabu (12/2/2020).
Selama lebih kurang 27 Tahun bekerja sama, dia selalu berusaha jujur. Dia juga mengaku bisa saja berbohong dan mendapat untung banyak kalau mau. Tetapi dia lebih memilih menjaga kepercayaan rekan bisnis agar bisa bertahan lama.
“Kuncinya itu jujur dan saling percaya, jadi kerja sama puluhan tahun seperti ini masih terus terjaga. Jangan bohong dan tergiur untung lebih, hal seperti itu tidak membuat usaha lebih baik,” tegasnya.
Editor : Kholistiono

