BETANEWS.ID, KUDUS – Ulin (55) terlihat sedang menata batik di bagian tengah rumahnya di Jalan Raya Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Berbagai macam batik itu ia tata sedemikian rupa agar memudahkan pembeli yang hendak memilih.
Owner Ulin Batik PKL itu menuturkan, awalnya ia hanya menyediakan batik sarung dan kain saja. Seiring berjalannya waktu, dirinya mencoba mengembangkan produk batiknya, dengan membuat pakaian, mukena, hingga blangkon.
“Buka usaha di 2019. Awalnya hanya fokus pada sarung, kayak pesanan sarung anak sekolah. Karena penginnya berkembang lagi, jadi merambah ke produk-produk lainnya. Kayak blangkon itu awalnya ada yang tanya terus coba buat dan dijual,” terang Ulin, Senin (11/3/2024).
Baca juga: Batik Pring Suket Jadi Outfit Andalan Anak Muda yang Suka Tampil Ngejreng
Dirinya menyebut, tak mau menjual produk-produknya dengan harga tinggi, sehingga ia kini punya banyak pelanggan dari berbagai daerah. Harga ramah kantong itu bervariasi tergantung dengan jenis kain dan proses pembatikannya. Salah satunya adalah produk blangkon yang harganya Rp20 ribu.
Kemudian sarung batik dengan cara printing harganya Rp60-70 ribu. Sedangkan untuk batik cap harganya Rp90-125 ribu. Sementara untuk mukena dengan batik lukis dibanderol Rp125 ribuan.
“Karena kebanyakan, kan, memang pondok pesantren dan sekolah-sekolah yang pesan, ya. Biasanya mereka pesan yang batik cap dengan logo pondok atau sekolahnya,” ujarnya.
Baca juga: Sarung Batik Al Juwani, Produk Lokal Tembus Pasar Internasional
Untuk motif batik yang sering dipesan adalah motif Kudusan yakni batik dengan adanya unsur kota Kudus, seperti motif Menara, lentog tanjung, jembatan Kudus Kota Kretek (K3), hingga motif parijoto.
“Sejauh ini baru itu untuk motif Kudusan. Kalau misal nanti kastemer mau motifnya dibuat beda juga bisa. Biar nanti nggak banyak yang sama, jadi biasanya saya akan mengeluarkan motif lain,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

