BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan kain batik tersusun rapi di dalam Toko Ulin Batik PKL yang berada di Jalan Raya Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di bagian tengah, tampak beberapa orang sedang memilih motif batik dengan didampingi oleh pemilik usaha, Ulin (55).
Aktivitas pembeli yang datang silih berganti itu memang jadi pemandangan sehari-hari di toko tersebut. Apalagi di musim penerimaan siswa baru, tempatnya akan makin ramai oleh beberapa sekolah yang hendak memesan seragam batik.
Ulin menjelaskan, biasanya untuk pesanan sekolah itu mencapai ratusan batik, tergantung dengan banyak sedikit siswa. Orderan itu datang dari berbagai daerah, seperti Kudus, Pati, Jepara, Demak. Bahkan, dirinya juga pernah mendapatkan pesanan dari luar Jawa, yakni Samarinda, Kalimantan Timur. Menurutnya, kastomer ya itu mengetahui toko batiknya melalui media sosial yakni Instagram.
Baca juga: Angkat Kearifan Lokal Kudus Jadi Jalan Muria Batik Dikenal hingga Mancanegara
“Sebenarnya saya nggak begitu sering promosi karena nggak terlalu bisa main handphone. Tapi, setiap ada pembeli yang datang kadang saya tanya, kok tahu toko saya dari mana, bilangnya dari Google. Ada juga yang bilang dari mulut ke mulut,” ucapnya, Senin (11/3/2024).
Untuk promosi, dia memang dibantu oleh sang anak dalam mengelola dagangannya itu. Salah satunya adalah melakukan penjualan melalui online shop seperti Tokopedia.
“Ada di Tokopedia juga, tapi anak yang lebih mudeng. Saya cuma bisanya posting jualan saja. Kalau ada yang pesan nanti anak yang ngasih tahu,” tutur ibu yang dikaruniai dua orang anak itu.
Baca juga: Saking Larisnya, Batik Lancar Jaya Abadi Kudus Ini Bisa Produksi hingga Ribuan Kain Sehari
Selain batik sekolah, dirinya juga menyediakan kain batik dan sarung batik. Harganya bervariasi tergantung dengan jenis kain dan proses pembatikannya. Untuk sarung batik dengan cara printing harganya Rp60-70 ribu. Sedangkan untuk batik cap harganya Rp90-125 ribu. Sementara untuk mukena dengan batik lukis dibanderol Rp125 ribuan.
“Karena kebanyakan, kan, memang pondok pesantren dan sekolah-sekolah yang pesan, ya. Biasanya mereka pesan yang batik cap dengan logo pondok atau sekolahnya,” ujarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

