Kasus Kematian DBD Jepara Lima Besar di Indonesia

BETANEWS.ID, JEPARA – Jumlah pasien yang meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jepara terus bertambah menjadi 17 orang sampai dengan Senin (4/3/2204). Sedangkan pasien yang positif DBD sebanyak 145 dan yang tersangka atau suspect 817 pasien.

Bertambahnya kasus kematian tersebut menurut Dr. Eko Cahyo Puspeno, Kepala Pelaksana Harian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara menjadi jumlah kasus kematian tertinggi ke-lima se-Indonesia.

Baca Juga: Berkah Tradisi Dandangan, Pengrajin Remitan Mayong Jepara Kebanjiran Order

-Advertisement-

Melihat tingginya kasus kematian tersebut, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan dari Salatiga akan mengambil sampel darah pasien DBD di enam rumah sakit di Jepara untuk dilakukan penelitian.

“Sebab jenis nyamuk yang menyerang ini diduga merupakan jenis nyamuk yang mengakibatkan terjadinya Dengue Shock Syndrom (DSS) dengan cepat,” katanya di Radio Kartini Jepara usai Dialog Interaktif ‘Penanggulangan Demam Berdarah ‘, Senin (4/3/2024).

Adapun sampel darah yang diambil, nantinya akan diteliti tingkat serotip virus DBD di Jepara. Kemudian jentik-jentik nyamuk sampai dengan resistensi insektisida yang akan meniliti apakah nyamuk dengue di Jepara sudah kebal dengan dengan bahan insektisida yang dipakai pada saat fogging.

“Ini tentunya kesempatan yang baik karena tidak semua kabupaten/kota akan dilakukan penelitian tentang ini. Komunikasi kita dengan provinsi dan Kemenkes juga disambut baik karena Jepara ini termasuk kasus kematian lima tertinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa secara epidemiologi kasus DBD di Jepara merupakan siklus lima tahunan. Namun, bisa juga disebabkan karena terjadinya el-nino. Sehingga saat terjadinya musim hujan disertai dengan musim panas, banyak telur nyamuk yang kemudian menetas.

Baca Juga: Sambut Ramadan, Baratan Ratu Kalinyamat Angkat ‘Siti Inggil’

Ia berharap, kasus kematian pasien akibat DBD ke depan tidak semakin bertembah. Jika mengamati jumlah kasus pada Minggu ke-sembilan menurutnya sedikit mengalami penurunan atau landai.

“Kalau diamati puncaknya kemarin di Minggu ke-8, dan saat ini kan Minggu ke-10. Pada Minggu ke-9 masih tinggi tetapi agak sedikit melandai. Sehingga mudah-mudahan dengan upaya bersama dari seluruh masyarakat kasusnya tidak semakin bertambah,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER