BETANEWS.ID, KUDUS – Akibat banjir yang melanda Kecamatan Karanganyar, Demak, beberapa waktu lalu, ketersediaan tabung gas elpiji 3 Kg (melon) di Kudus saat ini dikeluhkan para pedagang kaki lima (PKL).
Banjir yang melumpuhkan jalur Pantura Kudus-Semarang hampir dua pekan itu membuat distribusi pengiriman menjadi tersendat.
Baca Juga: Mantan Bupati Hartopo Kembali Dipanggil Kejari Kudus, Datang Kendarai Mobil HardtopÂ
Salah satu pedagang, Uus mengaku, ketersediaan tabung gas melon di Kudus saat ini langka dan susah didapatkan. Hal itu disebabkan karena dampak banjir di Kecamatan Karanganyar, Demak. Sehingga distribusi pengiriman barang menjadi telat sampai di Kudus.
“Saat ini carinya susah dan langka, karena dampak banjir di Demak sehingga distribusi pengiriman tersendat. Katanya distribusinya saat ini susah,” bebernya saat ditemui sembari goreng cakwe dagangannya, Selasa (20/2/2024).
Bahkan, Uus harus mencari elpiji hingga ke Mayong, Jepara untuk mendapatkannya. Meski begitu, ia tetap bisa berjualan walaupun sedikit repot mencari keberadaan elpiji saat ini. Kesulitannya dalam menjadi elpiji sudah ia rasakan sejak sepekan terakhir.
“Dapatnya ya cari-cari, keliling, terkadang ke luar Kudus sampai Mayong membeli tabung gas elpiji ini. Karena untuk kebutuhan seminggu butuh tiga tabung. Kalau biasanya kan gampang, ada gitu beli langsung. Kalau saat ini harus nyetok dulu, biasanya beli di toko sebelah kontrakan,” ungkapnya.
Hal sama juga dirasakan oleh pedagang lainnya, yaitu Ridwan. Warga Kabupaten Demak itu menjelaskan, ketersediaan tabung gas yang dianggap sulit itu membuat harga naik.
“Harga saat ini Rp25 ribu, dari harga normalnya Rp21-22 ribu. Kenaikan harga itu terjadi sejak kemarin, Senin (19/2/2024),” jelasnya.
Baca Juga: Meriahnya Dandangan 2024, Dibuka Habib Ja’far, Ditutup Azzahir
Ia juga sampai mengambil elpiji di Demak untuk bisa berdagang, agar dapat memenuhi dan menafkahi kebutuhan sehari-hari di keluarga kecilnya. Hingga sampai saat ini, menurutnya ketersediaan tabung gas elpiji masih sangat sulit didapatkan.
“Sebagai pedagang kecil ya agak susah ya, kalau gak dapat gak bisa jualan, nafkahi anak istri karena masih kecil juga,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

