31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

LeukoSense, Alat Deteksi Darah Putih Buatan Pelajar MA Salafiyah Kajen Raih Medali Emas

BETANEWS.ID, PATI – Siswa Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional.

Mereka adalah Tsalisa Chulaili Sahri Nova, Yoga Dimas Saputra, Dwi Erfiyan Sadewa, Achmad Najmi Zidan, dan Muhammad Jihaduddin Lathif. Lima siswa dari tim riset MA Salafiyah Kajen yang duduk di kelas XI dan XII itu baru saja menyabet medali emas pada ajang Asean Innovative Science, Evironmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2024.

Baca Juga: Pemprov Jateng Salurkan Bantaun Korban Banjir Grobogan, Tanggul Jebol Mulai Ditangani

-Advertisement-

Lomba ini diselenggarakan pada 2-5 Februari 2024 oleh Fakultas Tehnik Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang yang berkolaborasi dengan Indonesian Young Scientist Association (IYSA). 

Ketua Tim Riset MA Salafiyah, Tsalisa Chulaili Sahri Nova mengatakan, lomba ini telah memberikan pengalaman berharga bagi timnya. Menurutnya, untuk mencapai titik ini, pihaknya harus melewati proses yang ketat.

Ia menjelaskan, dalam lomba tingkat internasional itu, timnya telah mengenalkan sebuah inovasi baru, yaitu alat untuk mengecek sel darah putih tanpa melalui jarum suntik. Alat ini mereka beri nama LeukoSense: Next-Gen Leukocyte Detection System.

Cara kerja alat ini mirip dengan oxymeter. Namun yang dihitung bukanlah oksigen melainkan darah putih. 

Untuk melakukan pengecekan, yakni dengan masukkan jari ke lubang yang telah disediakan. Nantinya alat ini akan membaca hasil data perhitungan sel darah putih dan akan secara otomatis terbaca di layar handphone melalui aplikasi khusus yang telah di desain, yaitu Blynk iot.

Inovasi inilah yang menghantarkan tim riset MA Salafiyah menyabet medali emas dalam ajang AISEEF 2024.

“Lomba ini cukup memberikan banyak pelajaran, karena harus berusaha sekeras mungkin, berlatih setiap hari, dan tidak lupa berikhtar kepada Allah SWT. Kami juga tak lupa meminta doa restu kepada bapak ibu guru dan juga teman-teman agar diberikan hasil yang terbaik, serta mengirim hadrah dan wasilah kepada para asatidz asatidzah Salafiyah yang sudah mendahului kita,” kata Tsalisa Chulaili Sahri Nova dalam rilisnya, Rabu (7/2/2024).

Di sana, katanya, timnya tidak hanya sekadar mencari kemenangan, melainkan mempelajari arti dari sebuah proses.

“Untuk mencapai titik ini bukanlah suatu hal mudah bagi kami, kegagalan terus terulang berulang  kali dan juga melewati proses jatuh bangun, mendapat kata-kata yang kurang mengenakkan dan lain sebagainya. Tapi hal tersebut tidak membuat mental kami down melainkan menambah semangat kami agar semakin baik supaya mendapat hasil yang maksimal,” imbuhnya.

Guru pembimbing tim riset MA Salafiyah adalah Isyarotuz Zakiyyah dan Moch Chamdan Yuwafi. Isyarotuz menjelaskan, anak didiknya mengambil judul Advancements in Non-Invasive Intelligent Technology for Leukocyte Detection, dalam perlombaan itu. Lomba ini diikuti oleh 462 tim dari 17 negara.

“Suatu tantangan tersendiri anak-anak mengikuti event ini, karena event ini diadakan langsung secara offline. Tentu persiapan yang panjang kami lakukan. Mulai buat projectnya sampai mendapatkan sebuah alat bantu kesehatan dan itu tidaklah mudah,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pihaknya membutuhkan waktu lima bulan untuk persiapan. Itu mulai menentukan ide hingga teori biologi medisnya. 

“Persiapan butuh waktu yang panjang sekitar 5 bulan. Menentukan ide, sampai kolaborasi teori fisika kedokteran, teori smart teknologinya, dan teori Biologi medisnya. Jadi tidak hanya satu teori saja tapi perlu pencermatan di beberapa teori,” katanya.

Baca Juga: Banur Jadi Pelatih Persipa Musim Depan? Ini Kata CEO Laskar Saridin

Hal itu, menurutnya dilakukan anak-anak sesuai arahan pembimbing, sampai mereka bisa membuat alat dan bisa dioperasikan menggunakan gadget.

“Berulang kali anak-anak mencoba pemasangan namun gagal dan akhirnya diulang lagi. Sampai akhirnya mendekati bulan Januari alat tersebut jadi. Proses panjang itu lah yang paling kami hargai melihat kegigihan anak-anak hingga akhirnya rasa lelah, rasa sempat putus asa, serasa terbayarkan dengan mendapatkan gold medal ini,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER