7 Tahun ASTI Kudus, 500 Talenta Muda Disiapkan Menuju Sepak Bola Profesional

BETANEWS.ID, KUDUS — Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI) Kudus memasuki usia ke-7 dengan terus memperkuat komitmennya dalam membina talenta muda sepak bola. Perayaan anniversary ASTI Kudus yang digelar di @Hom Hotel Kudus sekaligus menjadi momentum untuk kembali membangun motivasi dan karakter para pemain muda, Selasa malam (25/8/2026).

CEO ASTI Kudus, Arif Budianto, mengatakan kegiatan tersebut dikemas melalui Motive Action Class yang diikuti sekitar 200 siswa. Peserta berasal dari kelompok usia 12 hingga 17 tahun dan seluruhnya merupakan siswa ASTI Kudus.

Menurut Arif, Motive Action Class tidak sekadar memberikan motivasi kepada para pemain, tetapi juga mendorong mereka menemukan alasan untuk bergerak dan berkembang. Program tersebut ditujukan bagi siswa baru sekaligus menjadi pengingat bagi siswa lama mengenai tujuan yang ingin mereka capai selama berada di ASTI.

-Advertisement-

“Bagaimana mereka menemukan alasan untuk bergerak,” ujar Arif saat ditemui dalam kegiatan anniversary ASTI Kudus.

Arif menjelaskan, ASTI Kudus telah berdiri selama tujuh tahun, sementara kegiatan Motive Action Class sendiri telah berjalan selama empat tahun. Mulai 2026, ASTI juga menggunakan tagline “Do the Best, Be the Best” sebagai semangat yang ingin ditanamkan kepada para pemain.

Baca juga : Srikandi Merdeka Cup Usai, Pembinaan Sepak Bola Putri Indonesia Bakal Berlanjut di 15 Kota

“Dalam kegiatan tersebut, kami menghadirkan motivator. Tujuannya tidak hanya membangun semangat bertanding, tetapi juga membantu pemain memahami pentingnya mental dan karakter dalam perjalanan menjadi pesepak bola,” bebernya.

Di sisi lain, ASTI memiliki target yang lebih besar dari sekadar mencetak pemain berprestasi di level usia dini. Arif mengatakan, pihaknya berupaya menyalurkan sebanyak mungkin pemain ke klub yang lebih baik, termasuk Elite Pro Academy (EPA) klub Liga 1 maupun Liga 2 sebagai salah satu jalur menuju sepak bola profesional.

“Kita menyiapkan agar siswa ini nantinya bisa menjadi pemain profesional. Para siswa ini jenjangnya SMP-SMA dan mentoknya di usia 17 tahun. Tujuan kita, nantinya menyalurkan mereka ke tim akademi Liga 1 yang profesional,” jelas Arif.

Sejumlah alumni ASTI disebut telah melanjutkan karier ke klub profesional. Beberapa di antaranya berada di klub Liga 1 seperti Borneo dan Persita, sedangkan di Liga 2 terdapat pemain yang bergabung dengan Persis Solo dan Sumsel United.

ASTI juga terus memperluas jaringan pembinaannya. Saat ini, ASTI telah memiliki keberadaan di 10 kota. Delapan kota sudah memiliki badan hukum dan akta, yakni Kudus, Kendal, Tegal, Semarang, Purbalingga, Kulon Progo, Lamongan, dan Ternate. Sementara itu, Lampung serta Bekasi masih dalam tahap pengembangan.

“Dari jaringan tersebut, jumlah siswa ASTI saat ini diperkirakan mencapai sekitar 500 anak. Dua kota yang masih dalam tahap pengembangan belum menerapkan sistem boarding, berbeda dengan pusat pembinaan yang menggunakan pola pendidikan lebih terprogram,” ungkapnya.

Menurut Arif, sistem boarding memberikan ruang lebih besar bagi ASTI untuk membentuk karakter pemain karena aktivitas siswa dapat dipantau secara lebih terstruktur, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat. Pola tersebut dinilai membantu mengurangi pengaruh dari luar sekaligus membuat proses pembentukan kebiasaan dan kedisiplinan menjadi lebih mudah.

Dari sisi prestasi, ASTI juga mencatat sejumlah hasil dalam kompetisi internasional. Pada Bangkok Youth Cup di Thailand, tim ASTI U-10 dan U-12 masing-masing meraih posisi runner-up, sedangkan tim U-18 menempati peringkat ketiga.

Prestasi lainnya diraih saat ASTI tampil di Batam Prime dengan membawa pulang gelar juara. ASTI kemudian kembali mencatat prestasi di Korea Selatan melalui Sangju Cup dengan meraih posisi ketiga.

Arif mengatakan, proses pembinaan di ASTI tidak hanya mengandalkan latihan di lapangan. Pembelajaran teori dan praktik berjalan beriringan, termasuk melalui analisis pertandingan untuk mengetahui kekurangan pemain yang kemudian diperbaiki dalam sesi latihan.

“Metode di latihan kita intinya adalah pengulangan-pengulangan. Mungkin bahasanya lebih baik mengajarkan satu jurus sampai mahir daripada banyak jurus enggak ada yang mahir,” katanya.

Karena itu, perjalanan tujuh tahun ASTI Kudus tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan juara dalam kompetisi kelompok usia. Lebih jauh, ASTI ingin menjadi jembatan bagi pemain muda untuk berkembang, mendapatkan kesempatan masuk akademi klub profesional, dan melanjutkan perjalanan mereka menuju level sepak bola yang lebih tinggi.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER