BETANEWS.ID, JEPARA – Suasana khidmat terasa saat puluhan warga Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara menggelar Barikan Sitinggil pada Jumat (26/6/2026).
Barikan digelar di lokasi Sitinggil yang berada di belakang tembok SMP Islam Sultan Agung 3 Kalinyamatan.
Lokasi tersebut berupa tanah kosong. Disebut Sitinggil karena di tengah area itu terdapat gundukan tanah yang cukup tinggi menyerupai bukit. Di atasnya tumbuh beberapa pohon.
Di samping gundukan tanah tersebut terdapat rumpun bambu. Di tengahnya berdiri sebuah pohon aren berukuran cukup besar.
Acara Barikan diawali dengan istigasah dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama menggunakan hidangan yang dibawa masing-masing warga.
Usai doa bersama dan sambutan dari panitia serta kepala desa, sesepuh Desa Kriyan, Muhtadi Moroteruno, menceritakan sejarah Sitinggil yang diyakini dibangun oleh Ratu Kalinyamat.
Muhtadi mengatakan Sitinggil dipercaya sebagai lokasi yang semula akan dibangun menjadi Keraton Ratu Kalinyamat.
“Sitinggil itu, siti itu lemah (tanah), inggil itu duwur (tinggi), jadi Sitinggil itu lemah duwur. Sitinggil ini suatu tempat yang mau dibuat Keraton Ratu Kalinyamat,” jelas Muhtadi saat ditemui usai kegiatan Barikan.
Sebelum dijadikan keraton, kawasan tersebut terlebih dahulu dibangun tembok atau pagar oleh Ratu Kalinyamat. Namun, di tengah proses pembangunan, suaminya, Sultan Hadlirin, dibunuh oleh Arya Penangsang.
Ratu Kalinyamat kemudian bertapa di Sendang Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Topo Wudo Sinjang Rikma.
“Karena mendapat musibah, pembangunan keraton ini tidak dilanjutkan, tapi tembok atau pagarnya ini sudah dibangun,” ujar Muhtadi.
Menurut Muhtadi, pembangunan tembok tersebut membentang hingga ke wilayah yang kini menjadi Balai Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan.
Ia mengatakan bekas tembok itu masih dapat ditemukan, tepatnya di sebelah timur perempatan Balai Desa Robayan.
“Tembok itu sama masyarakat disebut kuto bedah. Kuto itu tembok, bedah itu enggak jadi. Karena pembangunannya memang tidak dilanjut,” jelasnya.
Sebagai upaya merawat dan mengenalkan sejarah Ratu Kalinyamat kepada masyarakat, khususnya generasi muda, Barikan digelar di lokasi tersebut.
Ahmad Ahfas, inisiator Barikan, mengatakan kegiatan itu baru dilaksanakan untuk ketiga kalinya. Ia berharap ke depan Barikan dapat digelar secara rutin dan dihadiri seluruh masyarakat Desa Kriyan.
“Tujuannya ini supaya masyarakat bisa tahu, ini lo sejarah Sitinggil, nguri-nguri, serta doa bersama untuk memohon keberkahan,” ujarnya.
Editor: Kholistiono

