BETANEWS.ID, KUDUS – Program Aku Pembelajar Inkuiri (Ajari) Batch 4 yang diinisiasi oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation (BPDF) resmi ditutup di Djarum Oasis Kretek Factory, Selasa (23/6/2026). Ratusan guru dari lima TK dan lima RA di Kudus siap mengajar anak usia dini untuk menyiapkan generasi pembelajar yang aktif dan berkualitas.
Program Ajari merupakan program yang bertujuan mengembangkan kemampuan guru dalam menyiapkan generasi yang aktif dan berkualitas melalui pendekatan pembelajaran berbasis bermain (play-based learning) dengan budaya inkuiri. Hal itu selaras dengan target Pemerintah Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, menyampaikan bahwa transformasi dari pembelajaran drilling ke pendekatan pembelajaran berbasis bermain dapat direalisasikan. Namun, hal tersebut membutuhkan dukungan guru dan waktu yang cukup panjang karena harus mengubah pola pikir, baik anak maupun orang tua.
“Soalnya siswa yang pandai tidak hanya siswa yang mampu baca tulis berhitung (calistung) di usia dini. Namun melalui pendekatan belajar berbasis bermain ini, anak diharapkan bisa berpikir lebih kritis,” bebernya di sela kegiatan penutupan Program Ajari, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa program tersebut rutin diselenggarakan bekerja sama dengan Pusat Belajar Guru, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, serta Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. Program yang telah dimulai sejak 2017 itu kini memasuki Batch 4.
Baca juga : Puluhan Sekolah di Kudus Dapat Bantuan Revitalisasi, Besarannya hingga Rp1,5 Miliar
Menariknya, dalam pelatihan Batch 4 ini, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dilatih dan didampingi oleh fasilitator yang juga merupakan guru PAUD peserta Program Ajari pada tahap sebelumnya. Sebanyak 20 fasilitator berhasil memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 105 guru PAUD di 10 sekolah mitra Djarum Foundation.
“Sepuluh sekolah ini terdiri dari lima sekolah TK dan lima lainnya dari RA. Mereka dilatih satu tahun penuh, mulai Juni 2025 lalu hingga selesai dan saat ini mereka telah siap mengajarkan mode pembelajaran yang sudah dia dapat dalam program ini,” ujarnya.
Proses pelatihan yang membutuhkan waktu cukup panjang tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pendidik agar mampu mengajar siswa melalui kegiatan yang lebih eksploratif, mendorong mereka berpikir kritis dan kreatif, serta meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
“Luar biasa, anak-anak PAUD sekarang lebih eksploratif ya. Mereka dituntut untuk lebih komunikatif, eksploratif, serta dituntut bisa menyelesaikan masalah sejak dini. Jadi kalau sekarang kita ke PAUD, bertemu anak-anak sudah berbeda,” terangnya.
Kepala TK Islam Miftahul Huda, Anita Dian Arifah, menuturkan bahwa guru yang telah mengikuti program tersebut menjadi lebih kreatif dan lebih memahami cara menyiapkan pembelajaran yang menyenangkan. Selain itu, kualitas pembelajaran juga meningkat sehingga siswa menjadi lebih aktif, lebih sering bertanya, lebih mandiri, dan lebih antusias dalam menghasilkan karya.
“Oleh karena itu, program ini sangat bagus dalam pengembangan pembelajaran. Anak bisa berpikir secara computational thinking, serta dapat menyelesaikan masalah sedini mungkin,” tuturnya.
Bunda PAUD Kudus, Endhah Endhayani, yang hadir secara langsung dalam acara penutupan tersebut mengapresiasi program yang digalakkan oleh BPDF. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaat, terutama dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan layak untuk diberikan dukungan karena guru-guru PAUD akan memberikan modal awal bagi generasi muda agar mampu bersaing di masa mendatang,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Sony Wardhana, mengucapkan terima kasih kepada BPDF yang telah berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Kudus, terutama bagi anak usia dini. Bahkan, ia menyebut model pembelajaran tersebut lebih efektif dibandingkan metode guru yang hanya memberikan informasi kepada murid.
“Menurut pengamatan saya di lapangan sangat bagus sekali. Karena ada perbedaan yang mencolok, terkait guru memberikan pengetahuan sekarang dan adanya program ini. Sekarang ini pembelajaran berbasis anak, sementara guru hanya memfasilitasi,” ungkapnya.
Selama sembilan tahun program ini berjalan, sebanyak 659 guru telah dilatih dan didampingi di 46 sekolah mitra serta berdampak pada 7.589 siswa PAUD di Kudus. Ke depan, akan semakin banyak guru berkompetensi unggul dari Kudus yang siap membantu menyiapkan generasi emas.
Editor: Kholistiono

