31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Gerakan Menanam dan Olah Sampah, Wujud Nyata BLDF Rawat Ekosistem Alam

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Djarum melalui Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak tahun 1979 melaksanakan program penanaman pohon. Hingga saat ini sudah ada jutaan pohon yang ditanam.

Program Officer BLDF, Dandhy Mahendra mengatakan, program penanaman pohon awalnya dimulai di Kabupaten Kudus pada tahun 1979. Pada masa itu Kota Kretek mulai terasa gersang.

Baca Juga: Milad ke-27, UMKU Luncurkan Logo Baru dan Tagline “Go Better” sebagai Simbol Transformasi

-Advertisement-

“Berawal dari keprihatinan tersebut kita mulai hijaukan Kudus dengan program penanaman pohon. Baik dengan pohon penghijauan maupum pohon yang berbuah,” ujar Dandhy saat ditemui di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) BLDF, Rabu (19/11/2025).

Seiring berjalan, lanjut Dandhy, Kabupaten Kudus juga dilewati jalan transportasi nasional, sehingga dirasa butuh pohon peneduh. Kemudian, BLDF bekerja sama dengan Prof. Endes Dahlan seorang pakar tanaman dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meriset pohon yang cocok ditanam di bahu jalan raya.

Lalu, ditemukanlah pohon trembesi. Karena trembesi itu mampu menurunkan suhu di bawah naungannya antara 4-5 derajat celsius. Akarnya juga mengikat tanah sehingga lebih kuat dan tahan erosi. Selain itu, trembesi mampu menyerap emisi lebih optimal dibanding pohon jenis lain.

“Hingga saat ini, penanaman pohon trembesi tak hanya di sepanjang bahu Jalan Pantura, tetapi juga meliputi sepanjang Jalan Tol Trans Jawa, Jalan Trans Sumatra, Padang dan Lombok,” bebernya.

Selain itu, BLDF juga punya program untuk menghijaukan kembali Gunung Muria dan Patiayam. Menurutnya, beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 2018 pernah terjadi bencana longsor di Gunung Muria. Sementara di Pegunungan Patiayam mengalami kegundulan sejak tahun 2000, akibat pembalakan liar.

“Sehingga kita juga gencarkan program penanaman pohon di dua gunung yang ada di Kudus tersebut. Di Pegunungan Patiayam, kita bekerja sama dengan petani setempat untuk penanaman pohon yang berbuah,” sebutnya.

Sebelumnya, tutur Dandhy, Pegunungan Patiayam yang gundul ditanami jagung dan tebu oleh warga setempat, yang notabene itu adalah tanamam semusim. Jadi tidak bisa untuk penghijauan dan penangkap air untuk disimpan di dalam tanah.

“Begitu jagung dan tebu dipanen, Pegunungan Patiayam gundul lagi. Tak jarang juga menyebabkan bencana banjir,” ungkapnya..

Pegunungan Patiayam memiliki luas kurang lebih 2,4 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, BLDF bersama petani setempat sudah mampu menamam pohon di lahan sekira seribuan hektare. Pohon yang ditanam adalah jenis mangga.

Ia juga bercerita, awalnya petani enggan untuk menanam pohon mangga, karena dianggap bakal mengancam produktifitas jagung. Tetapi setelah diedukasi bahwa selain mampu menyerap air dan menahan erosi, pohon mangga juga punya nilai ekonomi.

“Sehingga petani pun bersedia menanam pohon mangga dengan sistem tumpang sari. Sekarang pohon mangga yang ditanam mulai berbuah. Pada tahun lalu, sekali panen bisa menghasilkan 50 ton mangga, tahun ini informasinya meningkat jadi 40 ton,” kata Dandhy

Untuk menopang program penanaman pohon, BLDF pun membuat Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) di Djarun OASIS Kretek Facktory. Di PPT tersebut kurang lebih terdapat 400 jenis pohon penghijauan. Dari pohon yang berbuah maupun yang tidak.

“Untuk program penghijauan kita memang melakukan pembibitan sendiri. Bibit ini juga kami bagikan gratis kepada warga yang ingin menanam pohon,” sebutnya.

Ketika Gunung Muria dan Pegunungan Patiayam kembali asri, tuturnya, pada tahun 2022 dilakukan untuk kelanjutan program penghijauan. Namun, dari riset tersebut didapati fakta bahwa di Gunung Muria masih terdapat ekosistem Macan Tutul Jawa atau warga Kudus menyebutnya sebagai Macan Muria.

“Dari situ kemudian kita mulai memasang kamera trap di 80 titik di Gunung Muria. Hasilnya ditemukan 14 individu Macan Tutul Jawa, terdiri dari 5 ekor berjenis kelamin jantan dan 9 ekor lainnya betina,” bebernya.

Berjalannya waktu, lanjut Dandhy, bicara peduli lingkungan ternyata tidak hanya pada penanaman pohon. Di Kudus yang notabene rumahnya PT Djarum menghadapi persoalan sampah. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ada di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo mulai overload pada tahun 2018.

Data dari Dinas Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus, warga Kota Kretek setiap harinya menghasilkan kurang lebih 400 ton sampah. Dari jumlah tersebut 70 persennya adalah sampah organik.

“Oleh karena itu, pada tahun 2018 tersebut PT Djarum melalui BLDF mendirikan PPO (Pusat Pengolahan Organik). Serta, menginisiasi gerakan Kudus Asik (Apik dan Resik), sebuah gerakan kerja sama bersama elemen masyarakat untuk mengolah sampah organik di Kudus,” jelasnya.

Saat ini, kata Dandhy, Kudus Asik sudah memiliki 400 mitra. Terdiri dari instansi pemerintah daerah, hotel, restoran, pasar tradisional, desa dan lainnya. Para mitra tersebut diwajibkan untuk memilah sampahnya antara yang organik dan non organik.

“Sampah organik yang sudah terpilah tersebut kemudian diambil oleh tim Kudus Asik untuk dibawa ke PPO guna diolah jadi humisoil atau kompos. Dalam sehari ada kurang lebih 50 ton sampah organik yang kami olah. Kompos yang dihasilkan digunakan untuk mendukung program penghijauan BLDF, serta dibagikan gratis kepada warga,” ungkapnya.

Untuk menyelamatkan lingkungan, tutur Dandhy, BLDF juga menggandeng para Gen-Z. Karena menurut survei, sebenarnya para anak muda itu ingin terlibat dalam gerakan lingkungan. Oleh karenanya pada tahun 2019, BLDF menginisiasi gerakan digital yakni Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan).

Gerakan ini bertujuan untuk menginspirasi dan mengajak generasi muda untuk berperan aktif serta berkolaborasi lewat aksi nyata, demi lingkungan yang lebih baik melalui narasi positif di media sosial.

“Kita juga sudah beberapa kali melakukan kegiatan penanaman pohon dengan menggandeng anak muda (Gen-Z). Ternyata responnya positif dan peminatnya juga sangat banyak,” ungkapnya.

Baca Juga: Antrean Haji di Kudus Capai 38 Ribu Lebih, Pendaftar Didominasi Usia Muda

Tak hanya di darat saja, lanjutnya, BLDF juga terlibat dalam penanaman mangrove di pesisir Pantai Utara Jawa. Menurutnya, beberapa tahun terakhir, abrasi yang terjadi semakin mengkhawatirkan akibat perubahan iklim.

“PT Djarum melalui BLDF berkomitmen akan terus untuk peduli terhadap lingkungan. Baik melalui penanaman pohon, mangrove, serta pengolahan sampah. Tentunya kami tidak bisa sendiri, kami butuh dukungan masyarakat dan stakeholder terkait,” ucapnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER